Jimat Rahasia Santri Nusantara

Ma’had Aly – Salah satu ciri khas suatu manuskrip dan kitab adalah di halaman awal selalu terdapat nama pemiliknya, tanggal pembelian kitab atau pembuatan salinan naskah, harga salinan naskah dan atau kitab tersebut, terkadang alamat pemiliknya, serta tak lupa jimat atau rajah khusus berbentuk tulisan yang dipercaya agar naskah atau kitab tersebut awet dan tidak lapuk dimakan oleh rayap, coro (kecoa), dan serangga yang lainnya, yaitu tulisan “يا كيكح، ياكيكح” (Ya Kikah, Ya Kikah). Adanya tulisan harga di salinan naskah, ternyata mengandung fenomena menarik tersendiri. Ternyata, pada zaman dahulu saat distribusi salinan naskah dan kitab belum tersebar dalam skala yang luas, beberapa pelajar Nusantara yang belajar di Mekkah, banyak yang bekerja sebagai penyalin naskah (dalam istilah ilmu tahqiq profesi ini dengan “al-nassakhun” atau “al-warraqun”) untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka selama belajar. Kebanyakan yang menggeluti profesi ini memiliki tulisan khat yang indah dan rapi. Nah, untuk saat ini mengapa masih ada santri yang menuliskan harga kitab di awal atau di akhir halaman? Karena mereka hanya ingin melestarikan budaya yang sudah ada sejak dahulu. Namun, terkadang karena mereka membeli kitab tersebut dengan susah payah. Jadi, saat melihat tulisan harga tersebut mereka termotivasi untuk belajar, mengingat untuk membeli kitab tersebut tidaklah mudah.

Kata “يا كيكح ini adalah sebuah kata yang dipercaya memiliki daya mistis untuk menghilangkan rayap, coro, dan serangga lainnya, khususnya di dalam sebuah kitab yang sering menjadi sasaran dan perhatian penuh dari para kiai dan santri. Khususnya pondok salaf (pondok pesantren yang masih melestarikan kajian kitab-kitab kuning dan identik dengan tradisional (klasik)) atau pondok modern yang juga mengkaji beberapa kitab kuning.

Namun, terkadang ada juga yang menuliskan lafadz يا كبكج  (Ya Kabikaj), ini adalah jenis lain dari lafadz يا كيكح. Bentuk kalimatnya biasanya adalah ياكبيكج، احفظ هذا الكتاب   (ya Kabikaj, ihfazh hadza al-kitab), yang artinya “Hai Kabikaj, jagalah kitab ini”. Dengan kata dan kalimat itulah, kitab dan naskah dipercaya tidak akan digerogoti oleh rayap, coro, kutu, atau jenis serangga lainnya. Padahal sejujurnya, penulis lafadz كبكج  tidak tahu menahu tentang artinya, namun mereka percaya karena memang benar terjadi. Kitab atau naskah yang terdapat tulisan tersebut di halaman awal atau di halaman akhir tidak dimakan oleh rayap dan serangga lainnya, meskipun diletakkan diantara bahkan di tengah-tengah kitab atau naskah yang dimakan rayap karena tidak ada tulisan lafadz tersebut.

Dalam bahasa Persia, lafadz كبكج  memiliki arti rajanya para serangga, atau malaikat penjaga rayap. Lafadz كبكج  mempunyai kedekatan makna dengan lafadz دايخدا (Dayakhda), dalam bahasa Suryani lafadz دايخدا memiliki arti nama malaikat yang menguasai jagat keseranggaan. Dalam bahasa Suryani, lafadz كبكج  adalah nama suatu jenis tumbuhan yang mengeluarkan bau yang menyengat dan dijauhi oleh semua serangga. Bahasa Suryani adalah bahasa yang digunakan oleh bangsa Aram dan digunakan hingga pada masa Masehi. Bangsa Aram adalah keturunan Nabi Nuh as, dari Aram bin Sa’am bin Nuh as. Bangsa ini menempati daerah yang disebut Aram, yaitu meliputi daerah Syam dan Irak.

Ada yang mengatakan bahwa, pada zaman dahulu kala, orang-orang saat proses pembukuan dan penjilidan makhthuthat (manuskrip) menggunakan madu, minyak ikan, putih telur, atau kanji sebagai perekat naskah-naskah dan kitab-kitab tersebut. Aroma perekat yang mereka buat, pastinya akan mengundang berbagai jenis serangga, oleh karena itu mereka menambahkan tumbuhan kabikaj yang sudah ditumbuk untuk dicampurkan ke perekat yang mereka buat sebagai antisipasi agar tidak ada serangga yang mendekat. 

Namun, ada cerita yang tersebar ke Persia dan India, bahwa jika menuliskan lafadz كبكج  sebanyak-banyaknya di halaman awal dan halaman akhir suatu kitab dan naskah akan menyelamatkan naskah dan kitab tersebut dari rayap dan serangga lainnya. Karena, konon rayap dan serangga lainnya akan merasa takut karena nama malaikat penjaganya tertulis di sana. 

Seiring berjalannya waktu, ternyata cerita kedualah yang akhirnya tersebar dan berkembang menjadi mitos turun-temurun di kalangan pesantren tradisional, dan bahkan sekarang pesantren modern yang mengkaji beberapa kitab pun ikut melestarikan hal tersebut dan menuliskan lafadz tersebut di kitab-kitab agar tidak termakan oleh rayap dan serangga lainnya. Mungkin memang terlihat lucu dan sangat menggelikan saat ada kang santri dan mbak santri yang menuliskan lafadz tersebut di kitab mereka sembari menahan nafas, dan sebelumnya diawali dengan membaca surat al-Fatihah terlebih dahulu sebelum menuliskan lafadz tersebut. Namun, memang pada kenyataannya hal tersebutlah yang terjadi dan melekat dalam tradisi di kalangan pesantren.

Seiring berjalannya waktu, lafadz كبكج mengalami perubahan frasa menjadi beberapa versi, di antaranya اكيكنج (akikanj), kemudian كننكج (kaninkaj), كيح (kih), كيكح (kikah), بكيكج (bikikaj), بكيكيغ (bekiking), dan lain-lain.

Untuk saat ini, yang paling fenomenal digunakan adalah lafadz بكيكيغ (bekiking). بكيكيغ dalam kamus Jawa-Indonesia, memiliki arti siput kecil, sangat kurus. Kebanyakan santri lebih sering menggunakan lafadz بكيكيغ daripada yang lain, karena lafadz بكيكيغ lebih mudah diucapkan. Kebanyakan santri menulis lafadz بكيكيغ sebanyak tiga kali, saat ditanya kebanyakan santri menjawab karena dari zaman dahulu kebanyakan menuliskannya sebanyak dua kali.

Terlepas dari mitos yang berkembang di kalangan santri, peristiwa كبكج  menjadi lebih menarik ketika ditilik dari segi lintas budaya. Terutama pada jejaring dan pengaruh kultur Islam-Persia di Nusantara. Fenomena كبكج  ini, juga memperkuat pendapat bahwa tradisi Islam yang berkembang di Nusantara pada masa awal-awal adalah tradisi Islam-Persia. 

Hubungan Persia-Nusantara juga bisa dilihat dari ritual atau tradisi yang berkembang dan turun-temurun di pondok pesantren, seperti dibaan, marhabanan, tahlilan, manakiban, ziarah kubur, relasi kyai-santri, dan sebagainya.

Dari segi filologis, lafadz yang berkaitan dengan Islam dalam bahasa Jawa-Melayu merupakan serapan dari bahasa Persia, seperti malaikat, hikmat, kiamat, surat, dan lain-lain. 

Tradisi penulisan lafadz كبكج  atau بكيكيغ yang berkembang bukanlah satu-satunya rajah yang fenomenal. Masih banyak lafadz jimat, rajah, asma lainnya yang mempunyai khasiat masing-masing. Contohnya adalah lafadz قطمير (qithmir) yang ditulis di kertas kemudian diselipkan di sela-sela peci. Qithmir adalah nama salah satu anjing Ashab al-Kahfi. Hal itu adalah untuk menjaga peci, agar peci tersebut tidak mudah hilang, dan jika hilang peci tersebut dapat kembali kepada pemiliknya.

 

 

Referensi

Katsir, Ibnu. 2013. Kisah Para Nabi. Jakarta Timur : Ummul Qura.

Sya’ban, A. Ginanjar. 2017. Mahakarya Islam Nusantara; Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara. Tangerang : Pustaka Kompas.

Utomo, Sutrisno Sastro. 2011. Kamus Lengkap Jawa-Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Fauzi, Nur Muhammad. Bekiking-bekiking Rahasia Unik Santri Nusantara. https://egyptstudentinformation.com/id/bekiking-bekiking-rahasia-unik-santri-nusantara/ diakses pada 13 Oktober pukul 21:54 WIB.

Choironi, M. Alvin Nur. Testimoni Konsumen Sambalado. https://majalahnabawi.com/testimoni-konsumen-sambalado/ diakses pada 14 Oktober pukul 22:15 WIB.

Oleh : Atina Fakhrun Nisa, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *