Ikatan Kiai, Santri, dan Kedamaian Negeri

Kiai Pewaris Dakwah Para Wali 

Kiai merupakan orang yang memiliki ilmu agama plus amal dan akhlak yang sesuai dengan ilmu yang ia miliki. Kiai merupakan tokoh sentral dalam suatu pondok pesantren. Maju mundurnya suatu pondok pesantren ditentukan oleh kharisma dan wibawa sang Kiai. Karena itu, tidak jarang ketika sang kiai panutannya telah wafat dan tidak ada yang melanjutkan estafet dakwah beliau, maka semakin lama pesantren tersebut akan mundur (Saiful Akhyar Lubis, 2007).

Para kiai Nusantara merupakan penerus Walisongo, mereka berusaha melestarikan dan mendakwahkan ajaran para pendahulunya secara arif dan bijaksana, perkara yang dilestarikan tersebut berupa pesantren yang merupakan Lembaga warisan didikan Wali Songo. Pesantren mengajarkan beberapa Ilmu pengetahuan untuk bekal santri yang akan menghadapi rintangan di masyarakat kelak, mulai dari ilmu agamanya, kebudayaan, seni, politik dan sebagainya. Karena pesantren juga merupakan satu-satunya lembaga pendidikan pada saat itu. Sehingga ada istilah mengatakan, “Sekiranya Nusantara dulu tidak dijajah maka penddikan yang ada di Nusantara ini hanya pesantren.”

Kalangan pesanten memang dari dulu hingga sekarang, ingin melestarikan ajaran yang telah diajarkan oleh ulama-ulama terdahulu, walaupun segala resiko, rintangan harus dihadapi dengan cara sabar dan istiqamah, apalagi ketika masuknya era-era modern yang akan merubah secara perlahan mental para santri.

Dalam berdakwah untuk meyakinkan masyarakat yang pemahamannya sudah bercampur baur dengan adat istiadat nenek moyang mereka, sungguh sangatlah sulit, butuh kesabaran kekuatan dan ketangguhan mental untuk masuk ke kehidupan mereka. Oleh sebab itulah Allah SWT memberikan satu kelebihan kepada para pendakwah yang benar-benar mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW yaitu karomah. Karomah tersebut Allah SWT berikan hanya kepada orang mukmin yang benar benar mengikuti ajaran Nabi dan sekaligus penyambung tali dakwahnya Nabi Muhammad SAW. Sepanjang sejarah Islam, cerita diutusnya para wali memiliki banyak karomah. Karomah dari Allah SWT tersebut menjadi bukti akan benarnya ajaran-ajaran yang dibawa oleh para wali (Agus Sunyoto, 2016).

Datangnya para pendakwah ke Indonesia tidak jauh beda jumlah mereka dari para pedagaang Cina yang sudah menjalin kontak perdagangan selama ini dengan Nusantara kita. Oleh sebab itulah dakwah di Nusantara tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena banyak di antara masyarakat yang sudah bermu’amalah dengan masyarakat Tionghoa dan telah memiliki peradaban Hindu-Budha yang terkenal dengan tegaknya beberapa kerajaan besar. Mereka kemudian berbaur mengikuti kebiasaan masyarakat yang belum kenal Islam yang sesungguhnya. Para ulama kita berdakwah dengan cara merangkul, bukan memukul, mencinta bukan mencela, sehingga mereka dapat masuk dan menyesuaikan keadaan dengan adat masyarakat sekitarnya, agar dapat menuntun kebiasaan yang salah kedalam ajaran Islam.

Ciri-ciri Kiai

Menurut Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya an-Nasha’ihud Diniyah mengemukakan kriteria atau ciri-ciri kiai di antaranya; dia takut pada Allah SWT, bersikap zuhud pada dunia, merasa cukup (qana’ah) dengan rezeki yang sedikit, rajin bersedekah dari harta yang telah Allah SWT titipkan padanya (A. Musthafa Bisri, 2003).

Imam Ali pernah berkata : 

التقوى هو الخوف باالجليل والعمل باالتنزيل والقناعة باالقليل ولأستعداد ليوم الرحيل”

Takwa ialah rasa takut pada Allah SWT, mengamalkan perkara yang sudah ditetapkan Allah SWT, merasa cukup dengan pemberian Allah SWT yang sedikit, dan mempersiapkan amal menuju hari akhirat.

Ketika seorang Kiai tidak mempunyai ciri-ciri seperti yang tertera di atas, maka wibawa Kiai tersebut akan hilang, sehingga dapat berdampak hal negatiF terhadap pesantrennya.

Menurut Ahli Sejarah Munawwar Fuad menyebutkan ciri-ciri kiai antaranya : 

  1. Tekun beribadah, wajib dan sunnah.
  2. Zuhud (ihtirozu ani syubhat) menjaga diri dari hal-hal yang dapat melalaikan.
  3. Mempuni dalam masalah ilmu agama.
  4. Peka terhadap kepentingan sosial.
  5. Ikhlas dalam pengamalannya.

Bukti nyata bahwasanya para kiai kita sangat santun dalam berdakwah ialah masuknya Islam dengan cara damai ke Nusantara, tanpa adanya angkat pedang. Jika masuknya Islam di Nusantara ini dengan pedang justru  hanya akan menambah beban mental dan kelemahan batin bagi negeri kita. Ketika Islam disebarkan di India lewat penakhlukkan Muhammad Ghazna, Dinasti Khijlia, Lodia, Haidar Ali, pergerakan mereka sangat massif tapi sisi negatifnya ialah ketika pimpinan besar mereka mati, maka mereka kembali kepada ajaran agama yang semula.

Oleh karenanya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab Nabi SAW pernah bersabda, “Di antara hamba-hamba Allah SWT ada orang yang dia bukan Nabi, bukan Rasul bukan juga para syuhada’ tapi kedudukan mereka sama dengan kedudukan para Nabi dan syuhada’. Para sahabat bertanya siapa mereka, ya Rasul? Beliau bersabda : Merekalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah SWT bukan karena ada tali kekerabatan atau persaudaraan wajah mereka bercahaya, mereka tidak bersedih di kala orang-orang bersedih. Kemudian Nabi membaca ayat “Ingatlah para wali-wali Allah SWT itu, mereka tidak pernah takut apalagi bersedih.” (HR. Abu Daud)   

Santri sebagai Prajurit Agama

Dalam kamus besar bahasa Indonesia santri ialah orang yang sedang mendalami agama Islam dengan sungguh-sungguh atau orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh dengan bekal agama Islam yang telah ia pelajari sebelumnya. Istilah lain mengungkapkan bahwasanya santri itu ialah khusus orang yang belajar di pesantren saja. Terlepas dari istilah itu semua, sejarah mencatat bahwasanya kemerdekaan Indonesia itu tidak lepas dari perjuangan besar kiai dan santri. Para penjajah tahu bahwa kiai dan  santri itu bukan orang biasa. Mereka adalah orang yang berpakaian lugu dengan segudang ilmu yang mereka simpan di peci dan sarungnya.

Para kiai merupakan santri yang dulunya sangat kuat dalam segala hal, terutama dalam hal kesemangatannya dan spiritualnya. Dalam istilahnya, spiritual merupakan immaterial tidak jasmani, terdiri dari ruh mengacu pada nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi (kebenaran, kecintaan, belas kasih, dan kesucian) (M. Faizin, 2008). Melalui tolak ukur spiritual, maka dapat dilihat seberapa kuat santri tersebut dalam memperjuangkan agamanya.

Belanda tahu bahwa Indonesia takkan terkalahkan kalau hanya mengandalkan senjata. Oleh karena itu Belanda beranggapan, jika para ulama dan santrinya kita jauhkan dari al-Quran maka perlahan-lahan mereka akan terkalahkan. Kita kenal seorang kiai yang juga mempunyai banyak santri di Indonesia, beliau adalah Kiai Munawwir (pendiri Pondok Pesantren Krapyak) pernah mengkhatamkan al-Qur’an selama 40 hari tanpa henti, sehingga mulut beliau mengeluarkan darah.

Kekuatan dan semangat yang ditumbuhkan oleh Kiai Munawwir, ternyata mempunyai kesamaan dengan Badiiun Zaman Said Nursi. Sebagaimana kata Sir William Ewart Gladstone di kantornya, sembari memegang Alquran dia berkata, “Selama ummat Islam masih bisa mendekat dengan Alquran kita takkan bisa mengalahkan mereka, maka kita harus menjauhkan ummat Islam dari Alquran”. Berita ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi Badiuzzaman seorang tokoh pahlawan dan ulama di Turki, lantas beliau mengatakan, “Aku akan bersumpah membuktikan bahwasanya al-Quran adalah mentari ma’nawi yang tak pernah padam apalagi dipadamkan. Lantas beliau mewakafkan dirinya untuk membuktikan sumpahnya (H. Asfuri Bahri, 2012).

Begitupun santri, ialah sosok prajurit yang siap menjaga agama dimanapun ia berada. Dengan ia menjaga agamanya, maka ia akan kuat menjaga bangsanya.

Pesantren sebagai Markas Perjuangan

Perumpamaan para ulama dan santri yang berjuang mengembangkan Islam di tanah Jawa ibaratkan burung garuda yang terbang dengan mengopakkan sayapnya melewati hutan rimba yang di setiap penjuru ada binatang buas yang ingin menerkam. Salah satu kisah pesantren sebagai markas perjuangan ialah Pesantren Buntet yang termasuk basis pertahanan Hizbullah. Sebagaimana catatan sejarah bahwasanya organisasi ini adalah perjuangan dari para pemuda untuk menghapuskan imperialisme di tanah Nusantara. Selain itu, Pesantren Buntet juga termasuk dari pertahanan Tentara Sabilillah, tentara ini juga termasuk organisasi perjuangan umat Islam untuk mengusir penjajah. Pesantren tersebut menjadi pusat pertahanan dengan Kiai Abbas dan Kiai Anas yang terkenal dengan ilmu bela diri sebagai pemimpinnya.

Pernah suatu ketika Kiai Abbas hendak dibunuh oleh preman utusan Belanda, dia pura-pura datang bertamu ke pondok tersebut, ketika di belakang Kiai Abbas beliau mengahadapinya dengan tenang tanpa ketakutan dengan tangan kanan Kiai Abbas yang masih memegang Alquran preman tersebut membawa Kiai Abbas kehalaman pondok. Setelah di kelilingi para santri suasana berbalik 180 derajat preman tersebut langsung ditaklukkan Kiai Abbas dan Alquran tadi masih berada erat di genggaman Kiai Abbas. Para santri terheran dan kagum melihat Kiai panutan mereka yang sangat mahir dalam segala hal (A. Aziz Masyhuri, 2017).

Pesantren Musthofawiyah Purba Baru, yang didirikan oleh Syekh Musthofa Husein tahun 1912 M, juga pernah ingin didatangi oleh tentara Belanda. Maka sekitaran jarak satu kilo meter, pesantren yang hendak didatangi tersebut sudah berubah menjadi lautan samudra yang luas. Selain itu, pernah satu ketika Syekh Musthofa Husein disuruh untuk menandatangani kontrak kepemilikan tanah oleh Belanda, tiba-tiba setiap goresan tinta yang ingin ditanda tangani oleh Syekh tersebut berubah menjadi air yang membuat kertas kontrak tersebuat basah, disebabkan oleh karomah dan berkah hizib yang beliau amalkan.

Nasionalisme Pesantren

Tradisi pesantren yang sudah begitu kuat dan melekat  menjadikan para ulama-ulama kita begitu mengagungkan gurunya ketika di tanah Haram, sehingga akar nasionalisme begitu kuat mengakar dalam diri mereka. Kiai Abbas pernah berkata bahwa pesantren itu ibaratkan pasar, melayani siapa saja yang membeli, namun pasar bukanlah tempat yang bisa memutuskan tali kekeluargaan. Karena itulah ulama-ulama kita, khususnya NU, lebih mendahulukan Islahnya dari pada Natijahnya, di antaranya ialah Syekh Hasyim Asy’ari setiap bulan melakukan perkumpulan di Multazam Makkah memusyawarahkan bagaimana caranya mengusir penjajah dari tanah Indonesia. 

Di sinilah peran pesantren yang begitu kuat dan sangat diharapkan kekuatan untuk memersatukan para santri yang berbeda dan beragam adat istiadat, tradisi, seni budaya, kekayaan inilah yang menjadikan Indonesia (A. Ginanjar Sya’ban, 2007). Seperti Nagroe Aceh Darussalam, gelar yang masyhur dikenal dengan serambi Makkah tersebut tidak hanya semata-mata didapatkan dari hasil semudah mengejamkan mata, tanpa Aceh belum tentu monas yang ada di Jakarta bisa diletakkan emas di atasnya, maka apa motifasi masyarakat Aceh sehingga bisa seperti demikian, otomatis kekuatan mental dan rasa toleransi yang begitu tinggi dari masyarakat Aceh yang masih terhujam di diri mereka. Pengaruh dan sifat-sifat para penjajah Nusantara untuk mencari rempah-rempah sungguh sangat serius sehingga perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan kita juga sangat berhati-hati dalam pengusiran terhadap imperialis Belanda, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Cut Nyak Dien, Tengku Umar, dan pahlawan Aceh lainnya.

Kedamaian negeri harus selalu dinomorsatukan karena kemaslahatan ‘ammah yang akan digali dari sejarah-sejarah Islam akan jauh lebih menguntungkan dari pada istilah nafsi-nafsi yang ditanamkan pada diri sendiri. Sejarah para nabi, rasul, auliya’ serta para ulama yang terkandung dalam Alquran maupun hadis sungguh telah ada ibroh dan pengajaran yang harus diambil oleh orang-orang beriman. Hikmah di balik cerita tersebut ada penjelasan-penjelasan yang harus diambil untuk penjelas bagi agama, bahkan sejarah tersebut bisa menjadi petunjuk bagi orang-orang yang masih kehilangan rasa damai dalam hati dan negerinya, sekaligus rahmat bagi orang-orang yang beriman. 

Mungkinkah Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, Jum’at Legi, 9 Ramadhan 1364 H dapat dibacakan oleh Proklamator jika tanpa ulama dan santri sebagai pengamal dan pengawal terdepan kemerdekaan Indonesia? Karena ketika ditanya, apakah Soekarno itu santri? Maka ketika merujuk kepada devenisi santri di atas, jawabannya ialah Sorekarno termasuk santri, karena ia berguru kepada Haji Umar Sa’id Cokro Aminoto. Beliau adalah muridnya ulama juga. 

Demikianlah ulama, santri, dan negera Indonesia sangatlah mempunyai hubungan kuat, erat dan takkan bisa terjerat oleh isu-isu manapun. Perjuangan santri yang sesungguhnya tak lain ialah doa, kesungguhan, zikir, yang dilantunkan dan ditakbirkan oleh mujahid-mujahid kita, dengan garda terdepannya ialah kiai dan santri.   

Referensi

Tafsir Jalalaini Imam Jalaluddin As-Suyuti dan Imam Jalaluddin Al- mahalli QS. Yusuf Ayat 111

Atlas Wali songo Agus Sunyoto 2016 Tanggrang Selatan Pustaka Iman Oktober 

A. Musthafa Bisri, 2003, percik-percik keteladanan kiai Abdul Hamid Pasuruan rembang, lembaga informasi dan studi Islam, yayasan Mahad Aly Syafiiyah

Maha Karya Islam Nusantara A. Ginanjar Sya’ban 2007 Tanggrang, Pustaka Kompas Mei

M. Faizin, 2008, perjalanan spiritual Prof. DR. Amin Syukur, MA. (studi kasus penyembuhan penyakit dengan terapi sufistik) Usuluddin 

Badiuzzaman dan Risalah an-Nur H. Asfuri Bahri Lc 2012 Depok penerbit Altinbasak Januari 

Api Sejarah Ahmad Mansur Surya Negara 2018 Bandung, Penerbit Surya Dinasti

99 Kiai Kharismaik Indonesia Kh. A. Aziz Masyhuri 2017 Bogor CV Arya Duta Oktober

Kontributor: Alpian, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *