HOS Tjokroaminoto dan Sarekat Islam

Ma’had Aly – Indonesia menjadi negara besar bukanlah suatu hal yang mudah, sejak awal abad ke-20 banyak sekali bermunculan organisasi masyarakat yang melatarbelakangi berdirinya karena adanya penjajahan. Kita mengetahui bahwa penjajahan sendiri dapat menimbulkan dua sisi, yaitu kesengsaraan bagi pihak yang terjajah dan keuntungan bagi pihak terjajah. Pihak terjajah sendiri tentunya berusaha untuk keluar dari zona jajahan dan kesengsaraan, sehingga banyak bermunculan tokoh-tokoh pribumi yang maju sebagai pelopor untuk menumpas penjajahan. Salah satunya yaitu Haji Oemar Said Tjokroaminoto. 

Tjokroaminoto lahir di Bakur, Ponorogo Jawa Timur pada 16 Agustus 1882 dan wafat pada 17 Desember 1934 di usia  51 Tahun. ia terlahir dari keluarga bangsawan, dengan nama kecil Oemar Said. Dalam dirinya mengalir darah ningrat, bangsawan Surakarta cucu susuhunan, dan ayahnya seorang kiai termasyhur yaitu Kiai Bagoes Kesan Besari. 

Oemar Said atau HOS Tjokroaminoto terkenal sebagai anak yang nakal dan pemberani. Sehingga ketika di bangku sekolah ia sering dikeluarkan dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Namun di samping kenakalannya itu, Oemar Said merupakan anak yang cerdas. Ia masuk ke sekolah OSVIA (Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren) dan menyelesaikan studinya di sana. Sekolah tersebut memang menjadi tradisi bagi anak-anak priyayi dengan harapan dapat menjadikan anak-anaknya seorang pejabat dalam dunia priyayi. Sebagai seorang bangsawan, tentu saja Tjokroaminoto atau Oemar Said dijodohkan dengan anak priyayi juga yaitu Raden Ajeng Soeharsikin, putri wakil bupati Ponorogo saat itu. Ia terkenal sebagai gadis yang baik budi pekertinya, santun tutur katanya, dan cekatan. 

Tidak hanya sampai disitu saja, HOS Tjokroaminoto juga dikenal sebagai salah satu tokoh pemimpin Sarekat Islam (SI) yang muncul pada abad 20 sebagai salah satu organisasi modern yang awalnya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dipelopori oleh H. Samanhudi pada tahun 1912. Organisasi ini bermula dari sebuah perkumpulan para pedagang batik untuk mengimbangi kemajuan para pedagang batik Cina yang hampir menguasai seluruh ekonomi rakyat pribumi. Pada saat itu, kolonial Belanda telah menimbulkan keresahan di kalangan pribumi, seperti pribumi tidak diperbolehkan menggunakan bahasa tinggi terhadap atasan, pribumi tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern dan pribumi diharuskan bersila di lantai. 

Diskriminasi yang dilakukan Kolonial Belanda terhadap pribumi banyak menimbulkan pergolakan di masyarakat. Ketidakadilan terhadap pribumi membuat mereka sadar sehingga terbentuklah pergerakan nasional melalui organisasi masyarakat, salah satunya yaitu Sarekat Dagang Islam (SDI). Tujuan berdirinya tidak lain adalah untuk bekerjasama memajukan perdagangan pribumi dan untuk menyaingi para pedagang Cina. Pada tahun 1909 Sarekat dagang Islam mulai berkembang di Jakarta oleh R. M. Tirtoadisuryo. Maka terjalinlah kerjasama antara H. Samanhudi dan R. M. Tirtoadisuryo dalam hal persuratkabaran. Namun, kerjasama antara keduanya tidak berlangsung lama, karena terjadi pertikaian dan hubungan mereka mulai renggang. Sehingga berpengaruh terhadap organisasi yang mereka bangun. 

Untuk melanjutkan perkembangan organisasinya, H. Samanhudi mencari seseorang yang dapat dipercaya mengurus organisasi tersebut. Maka, bertemulah dengan HOS Tjokroaminoto dan meminta kepadanya bertindak sebagai penyusun Sarekat Dagang Islam tersebut. Kemudian  HOS Tjokroaminoto pun menyetujui, pada 10 September 1912 dibuatkanlah akta hukum organisasi baru dengan berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI) dan akta tersebut dibuat atas namanya sendiri. HOS Tjokroaminoto dengan tegas menyatakan bahwa “Sarekat Islam memakai nama agama sebagai ikatan persatuan bangsa untuk mencapai cita-cita yang sebenarnya. Dan agama tidak akan menghambat kita mencapai tujuan tersebut.” Maka, secara resmi Sarekat Islam telah dibentuk. SI ini juga merupakan organisasi yang sangat terkenal di Indonesia pada awal kebangkitan nasional. Pada saat itu Sarekat Islam mengambil beberapa asas dan tujuan yang merupakan jawaban mengenai kondisi sosial masyarakat pribumi, antara lain sebagai berikut:

  1. Mengutamakan sosial ekonomi
  2. Mempersatukan pedagang-pedagang batik
  3. Mempertinggi derajat pribumi
  4. Memajukan agama dan sekolah-sekolah Islam

Perubahan nama Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI) bertujuan supaya anggota perkumpulan tersebut tidak hanya dari kalagan pedagang saja namun, ditujukan bagi masyarakat luas untuk seluruh kegiatan mereka. Perkembangan SI bergerak dibidang perekonomian, politik, dan sosial budaya yang didasari ajaran Islam. sarikat Islam juga turut berjuang menegakkan keadilan dan menekan adanya penindasan yang dilakukan oleh Kolonial Belanda saat itu. Kehadirannya ditunggu masyarakat sebagai upaya penyaluran aspirasi masyarakat. Dalam kongres Sarikat Islam pertama yang diadakan di Surabaya pada tahun 1913 ditegaskan bahwasannya Sarikat Islam bukan partai politik, namun hanya sebatas organisasi masyarakat sebagai upaya mewujudkan derajat tinggi masyarakat pribumi. 

Namun, perjalanan Sarekat Islam semakin lama semakin berkembang. Sehingga mulailah muncul pengaruh komunis dalam Sarekat Islam yang dipimpin oleh Samaun. Perpecahan terjadi dalam Sarekat Islam, namun dapat diatasi dengan kebijaksanaan kongres dengan cara kompromi antara aliran-aliran baru dan Sarekat Islam sendiri. Kemudian keputusan pun diambil antara aliran keagamaan yang diwakili HOS Tjokroaminoto dan aliran komunis yang dibawa oleh Samaun. Pengaruh komunis Samaun PUN semakin besar dalam tubuh Sarekat Islam. 

Suasana kehidupan politik pada saat itu, sangat berbeda dengan kehidupan politik saat SI didirikan pertama kali. Samaun dengan partai komunisnya mempengaruhi gerakan politik dari luar maupun dalam. Gerakan PKI saat itu sudah memiliki kader-kader dan berhubungan erat dengan Samaun dan diperkuat ketika Samaun membuat Konvensi Pergerakan. Tetapi Sarekat Islam mampu menyelamatkan diri atas penyelewengan yang dilakukan Samaun tersebut yang jelas-jelas menganut paham komunis internasional. 

 

Referensi

Amelz, HOS Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya Jilid 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1952. 

Anhar Gonggong, HOS Tjokroaminoto, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985. 

Haji Agus Salim, Kelompok Politik dalam Sarekat Islam, Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1997. 

Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional dan Kolonialisme sampai Nasionalisme Jilid 2, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Syafrizal Rambe, Sarekat Islam pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia, Jakarta: Yayasan Kebangkitan Insan Cendikia, 2008. 

Sejarah Lahirnya Sarekat Islam. http://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/BAB21410310011.pdf/diakses pada 02 Oktober 2019 pukul 23.58 WIB. 

  Oleh : Munir Akbar, Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *