Gus Dur, Sang Guru Bangsa

Ma’had Aly – Bicara tentang ulama, maka seseorang akan mempunyai definisi tersendiri menurut pendapatnya, orang yang paham ilmu syariat secara mendalam hingga ke akar-akarnya bahkan bisa membimbing umat ke jalan yang benar maka, akan tumbuh semangat yang dalam untuk memperjuangkan agama, begitu juga dengan kenegaraan adanya provokator terbaik dalam menumbuhkan sifat nasionalisme dan kesemangatan dalam diri seseorang akan membuat negerinya aman damai dan sentosa, maka lebih menakjubkan lagi ketika ada ulama yang sangat mumpuni dalam bidang keilmuan agama dan provokator terbaik dalam menumbuhkan sifat nasionalisme dalam diri ia akan menjadi intan permata di daerahnya. 

Banyak ulama-ulama para pejuang kemerdekaan NKRI yang cinta negeri ini, contohnya rakyat Aceh, mereka yang telah berlapang dada, mengikhlaskan hartanya untuk disedekahkan kepada pemerintah Indonesia agar dapat membeli pesawat di awal-awal kemerdekaan. Contoh yang lain ialah, sejumlah pemuda pancasila dalam ormasnya menyumbangkan dana 100 juta untuk masyarakat pedalaman suku Melayu Riau.

Apakah dengan ini tersebut belum bisa membuktikan bahwa ulama dan masyarakat banyak yang cinta NKRI, layaknya ulama kita sang guru bangsa KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa kita kenal dengan Gus Dur, siapa beliau? Bagaimana beliau begitu mengharumkan nama Indonesia?

  1. Biografi Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid lahir pada tanggal 4 Sya’ban 1359 H atau 7 September 1940 M, di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Ayah beliau, Wahid Hasyim adalah seorang Mentri pada tahun 1949, sedangkan ibu beliau, Sholelah adalah putri dari pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Waktu kecil beliau diberi nama dengan Abdurrahman Ad-Dakhil yang berarti seorang penakluk, karena sang ayah ingin tabarrukan kepada seorang pejuang dan perintis Dinasti Umayyah dan telah menancapkan tonggak keemasan Islam di Negeri Spanyol. Beliau biasa dipanggil dengan sebutan Gus Dur sejak kecil, beliau berasal dari keturunan ulama kakek beliau dari ayah bernama KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Sedangkan kakek beliau dari pihak ibu, KH. Bisri Syansuri, adalah orang yang pertama membuka kelas bagi wanita jika ingin mondok di pesantren. 

Gus Dur diajarkan membaca Al-Quran mulai dari kecil oleh sang kakek yaitu KH. Hasyim Asy’ari. Pada tahun 1944, dalam usia yang cukup dini, yaitu 4 tahun, Gus Dur dibawa ayahnya ke Jakarta karena mendapat tugas mewakili ayahnya sebagai ketua Jawatan Agama dalam pemerintahan penduduk Jepang, walaupun keluarga Gus Dur dari golongan orang-orang terpandang, beliau tidak pernah disekolahkan ayahnya di tempat yang elit, justru riwayat hidup beliau sering bergelut di dunia pesantren, selama belajar di SMEP, beliau juga sambil mondok di Krapyak, Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMEP, beliau melanjutkan pendidikannya di Pesantren Tegal Rejo, yang diasuh oleh kiai Khudori, yang juga seorang kiai humanis (suka bergaul dan lemah lembut kepada siapapun termasuk kepada muridnya) Gus Dur menghabiskan waktu 2 tahun untuk menonjolkan bakatnya di pesantren tersebut.

Pada tahun 1964, ia berangkat ke Mesir, beliau menghabiskan waktunya dengan menonton film Prancis dan Amerika serta banyak membaca di perpustakaan Kairo. Karena tidak puas dengan kurikulum Al-Azhar Mesir, akhirnya pada tahun 1966-1970 beliau pindah ke Universitas Baghdad. Maka di sinilah beliau mulai mengenyam pendidikan dengan serius dan dalam. Pada tahun 1971 beliau selesai mengenyam studi dan mulai menata sekaligus memulai karirnya di tanah kelahiran beliau. 

  1. Kisah Cinta

Terdapat kisah menarik sebelum Gus Dur mendapatkan cinta sejatinya, ketika remaja beliau adalah pemuda yang pemalu, lebih suka berdua-duaan dengan buku dan main bola daripada harus berpacaran. Layaknya seorang calon pemimpin di kemudian hari, pasti mempunyai keuletan dan ketelatenan dalam berbagai bidang. Ketika Gus Dur ditawari kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, ia sudah diwanti-wanti dan peringatkan oleh pamannya terlebih dahulu agar sebelum belajar ke Mesir mencari calon pendamping hidup dulu, karena kalau ditunggu setelah lulus kuliah umur akan semakin tua, dan yang akan didapat hanya wanita tua dan cerewet, ujar KH. Fatah , 

Gus Dur merenungi apa yang dikatakan pamannya, akhirnya beliau pun mengikuti apa kata pamannya, lalu tak lama kemudian datanglah nama Sinta Nuryiah, putri dari pedagang daging terkenal yang pernah menjadi murid Gus Dur ketika mengajar, tapi sayangnya dia belum bersedia menerima Gus Dur, karena masih trauma setelah dilamar oleh gurunya yang bernama Abdurrahman juga. Awalnya Nuriyah ogah-ogahan dalam menerima surat dari Gus Dur, namun beliau mulai simpati ketika melihat isi surat Gus Dur yang mengeluhkan tidak naik tingkat kuliah karena sibuk organisasi, maka Nuriyah pun mencoba menghibur dengan mengatakan, “Masa sih manusia harus gagal dalam segalanya, gagal dalam studi minimal berhasil dalam jodoh.” Singkat cerita mereka pun menikah pada tanggal 11 Juni 1968. 

  1. Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid tentang Pesantren

Gus Dur diberi gelar politikus, agamawan, negarawan, dan guru bangsa yang telah banyak artikel-artikel membicarakan pemikiran beliau, banyak pengamat yang memasukkan Gus Dur ke dalam pemikir Islam yang progresif bersama dengan Nur Kholis Majid, Djohan Efendi, dan Dawam Rahardjo. Yang membedakan Gus Dur dengan mereka semua adalah ketajaman pemikirannya yang menjalar sampai ke akar-akarnya, setiap kali turun tangan Gus Dur selalu disambut dengan gembira, dan umat pun selalu menunggu petuahnya. Gaya beliau yang santai dengan slogan “Gitu aja kok repot” yang beliau ambil dari hadis Nabi yassiru wala tu’assiru (permudahlah jangan dipersulit) dan selalu menyelipkan cerita-cerita lucu di setiap acara penyambutannya, makin menarik audiens dalam mengagumi dan membanggakan sosok satu ini, memang banyak yang kontra dengan beliau namun tak sedikit  juga yang pro, karena mungkin benar, tak ada yang bisa memahami jalan pemikiran Gus Dur melainkan beliau sendiri. Beliau pernah berkata, “Siapa saya, sebenarnya tidak ada yang tahu, karena pada waktu itu saya berada di luar jangkauan siapapun.’’ Namun walaupun begitu, untuk saat ini Gus Dur belum ada duanya di Indonesia, karya-karyanya yang begitu membanggakan, pujian-pujian dari bangsa asing kepadanya sampai beliau dijuluki bapak pluralisme negara karena begitu lapang hati dalam menerima perbedaan.

Gagasan pemikiran dan pola pikir seorang tokoh biasanya bisa dilihat dari pidatonya dan sejumlah karya tulisnya, ada beberapa karya tulis Gus Dur di antaranya: 

Pertama, buku ‘’Bunga Rampai di Pesantren’’. Dalam buku ini Gusdur menunjukkan sikap bahwasanya pesantren dengan sifat dasarnya akan mampu berbaur dan mengubah adat masyarakatnya dengan sikap tasamuh yang tinggi dengan disertai akhlak yang mulia. Dengan melihat kenyataan yang ada, memang sebagian besar alumni pesantren dapat berkiprah dan berperan dalam dunia percaturan politik, ekonomi, seni, dan pendidikan serta peran keagamaan. Sebagaimana kaidah fikih yang sering digunakan pesantren, المحافظة على القديم الصالح والاخذ با الجديد الاصلح 

Memelihara nilai-nilai lama yang masih relevan dan mengambil nilai nilai yang baru yang lebih relevan.” 

Bahkan beliau juga dijuluki sebagai bapaknya pesantren, saking perhatiannya kepada pesantren.

Keluasan cakrawala Gus Dur dapat dilihat ketika beliau membahas tentang pesantren, ‘’Pesantren adalah tempat menuntut ilmu agama yang unik, perubahannya dan dzauqnya akan berbeda dirasakan oleh setiap orang. Bagi yang mampu merasakan dzauqnya, maka keluasan ilmu dan intelektualitas akan mengalir dalam dirinya.’’ Sebagaimana yang telah dikatakan seorang ilmuwan, ‘’Pesantren itu ketika belum berkembang maka ia milik pendirinya, setelah pesantrennya berkembang dan dikenal banyak orang maka pesantrennya milik desanya (masyarakatnya).’’

  1. Wafatnya Sang Guru Bangsa

Pada pagi hari, keadaan beliau masih baik-baik saja, namun ketika pukul 11.30 WIB Gus Dur mengeluh sakit berat pada bokong bagian kanannya, menjalar di tungkai dan kaki kanannya, kemudian dengan segera dibawa ke RSCM para dokter memeriksa keadaan beliau.

Pemeriksaan untuk kesehatan beliau terus berlanjut, sampai akhirnya Presiden SBY menjenguk beliau pada pukul 18.20 WIB. Namun pada akhirnya usaha manusia hanya sebatas kemampuannya, qudrat iradat Allah lebih pasti untuk kebaikan hamba-Nya.

Pada pukul 18.45 WIB Gus Dur dinyatakan wafat dan berita itu disampaikan langsung oleh keluarga. Presiden SBY menyampaikan bela sungkawa dan pada pukul 18.55 WIB Presiden SBY pun meninggalkan RSCM. Gus Dur wafat pada tanggal 30 Desember 2009 tepatnya di usia 69 tahun dan dimakamkan di pemakaman Tebuireng, Jombang, berdekatan dengan makam ayah dan kakeknya. 

Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Kang Ayip dalam bukunya, almarhum Gus Dur adalah sosok yang sampai saat ini tidak ada duanya di Indonesia. Beliau adalah ulama, suami yang bertanggung jawab, sekaligus pahlawan bangsa banyak jasa beliau untuk NKRI ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Referensi

Abdus Somad, 2018, Ustad Abdus Somad Menjawab Yogyakarta MUTIARA MEDIA.

Baso Ahmad, 2015, Islam Nusantara Tanggrang Selatan, Pustaka Afid.

Yahya Utsman Syarif, 2007, Gusdur Memilih Kebenaran daripada Kekuasaan Jakarta, Percetakan Desantara Utama.

Hamid Muhammad,  2014,  Jejak Sang Guru Bangsa  Yogyakarta, Galang Pustaka. 

Taju Din Abdul Wahab ibn Ali As-Subki, Jam’ul Jawami’ fi Usulil Fiqh.

Kontributor: Alpian, Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *