Ghazwah Tabuk: Menang Tanpa Bertempur

“Insya Allah, kalian besok akan pergi menuju mata air Tabuk. Sesungguhnya kalian tidak akan sampai di sana pada senja hari. Setibanya di sana, janganlah kalian menyentuh airnya sedikit pun sebelum aku datang.” (H.R Muslim)

Siapa yang tidak tau dengan perang yang satu ini, ghazwah Tabuk. Perang ini sangat menarik. Mengapa? Ya, karena menang sebelum berperang. Namun sebenarnya, bagian menarik dari perang ini dan ibrah yang dapat kita ambil bukan ketika bertemu musuh lalu menang dalam berperang, tetapi ketika ujian yang kaum Muslimin hadapi dan ibrah yang dapat kita ambil, yaitu pada saat di Madinah. Betapa beratnya ujian yang harus dihadapi kaum Muslimin. Adapun alasan penamaan perang Tabuk dengan perang al-Usrah (saat-saat sulit) bersumber dari hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dengan sanad periwayatan sampai kepada Abu Musa al-Asy’ari. Al-usrah dibuktikan dengan kondisi kaum Muslimin yang mengalami kesulitan dalam logistik, betapa sulitnya ketika terjadinya musim kemarau yang sangat panas dan kering, dan mengharuskan meninggalkan perkebunan yang buah-buahan nya sudah mulai masak.     

Perang ini terjadi pada tahun-tahun terakhir pada masa Rasulullah, yaitu pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah. Dengan ekspedisi 30.000 pasukan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah, begitu pula semangat Rasulullah dalam menyebarkan panji dakwah, dan fokus beliau untuk mendakwahkan Islam pada kabilah Arab yang tunduk pada Romawi, yang dibuktikan dengan ghazwah Tabuk ini. Perang Tabuk ini bermulaan dari desas-desus yang beredar di Madinah dan banyak daerah, bahwa setelah kemenangan Rasulullah SAW di Fathu Makkah dan bersatunya Arab di bawah kepemimpinan beliau. Membuat pasukan Romawi merasa dendam akan hal itu, maka dari pihak musuh di bawah kepemimpinan kaisar Romawi Heraclius mengumpulkan pasukannya yang terdiri dari tentara Romawi dan tentara Arab Nasrani, dengan jumlah 40.000 pasukan. Hanya satu tujuan mereka, yaitu ingin menghancurleburkan Arab, terutama kota Madinah. 

Karena adanya desas-desus mengenai persiapan pasukan Romawi beserta Ghassan yang akan menyerang kaum Muslimin. Itu sangat memengaruhi situasi di Jazirah Arab, Rasulullah pun memutuskan untuk berangkat menghadapi pasukan Romawi di daerah perbatasan mereka. Rasulullah langsung memberitahukan kepada kaum Muslimin secara langsung mengenai keinginan untuk berperang dengan pasukan Romawi. Setelah mendengar pengumuman Rasulullah, seketika itu juga kaum Muslimin berlomba-lomba dalam melakukan persiapan, mereka juga berlomba-lomba dalam menafkahkan harta, dan mengeluarkan sedekah. Di sini lah hebatnya para sahabat, ketika ada ancaman besar dari negara terkuat pada saat itu mereka saling bahu membahu. Selain itu, keadaan musim panas terik, ditambah jarak dari Madinah ke Tabuk sangatlah jauh. Tapi semua hal itu tidak melunturkan semangat para sahabat. Bahkan mereka saling bergotong royong dalam mengumpulkan persiapan logistik. Tahu kan, teman? Dari banyaknya sahabat Rasulullah yang berkontribusi mempersiapkan logistik, menafkahkan harta, dan mengeluarkan sedekah. Sponsor utamanya adalah Usman bin Affan. Diriwayatkan, donasi Usman bin Affan pada waktu itu mencapai 1.000 dinar. Jika dihitung hari ini, ada seorang ulama yang menghitung kemudian dikonversikan ke rupiah, sekitar Rp. 2,4 Triliun. Ketika Usman membawa sumbangannya ke bilik Rasulullah, beliau membolak-balik sumbangan tersebut dan berkata berkali-kali, “Semoga apa yang diperbuat putra Affan tidak akan mengakibatkan keburukan padanya setelah hari ini.”

Ketika kaum Muslimin hendak berangkat ke Tabuk, Rasulullah menyerahkan kepemimpinan Madinah kepada seorang sahabat bernama Muhammad bin Maslamah. Sedangkan untuk urusan keluarga, beliau mempercayakannya kepada Ali bin Abu Thalib. Tepatnya pada hari Kamis Rasulullah SAW mulai bergerak ke arah utara, Romawi. Karena jumlah pasukan yang sangat besar, persiapanpun tidak sempurna. Meskipun banyak harta yang disedekahkan oleh kaum Muslimin, tapi kalau dibandingkan dengan jumlah pasukan yang ikut dalam perang ini, maka bekal dan tunggangan yang ada dianggap terlalu sedikit. Di mana delapan belas orang hanya mendapatkan satu ekor unta untuk ditunggangi secara bergantian. Untuk mendapatkan air minum pun hanya memakan dedaunan sekedar untuk membasahi bibir. Ini merupakan ujian yang sangat besar, itulah perjuangan yang sebenarnya. 

Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah perjalanan menuju Tabuk. Antara lain beberapa mukjizat Rasulullah, seperti makanan yang awalnya sedikit berubah menjadi banyak, beliau berdoa meminta hujan dan hujan langsung turun dan dalam perjalanan ini Rasulullah senantiasa menjamak salat Zuhur dan Ashar; Maghrib dan Isya. Selain itu, pasukan Islam juga melewati al-Hijr, yaitu perkampungan orang-orang Tsamud yang dahulunya mereka pernah membelah batu-batu besar di lembah untuk bahan bangunan atau tempat bersembunyi, atau disebut pula Wadil Qura. Disampaikan kepada dari az-Zuhri yang berkata “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati al-Hijr, beliau menutup wajahnya dengan pakaian dan mempercepat laju unta beliau, kemudian bersabda, Janganlah kalian memasuki rumah orang-orang yang telah berbuat zhalim, kecuali kalian dalam keadaan menangis karena takut terkena musibah seperti yang dulu menimpa mereka.” Kemudian peristiwa keterlambatan Abu Dzar karena untanya lemah, lalu dia menyempurnakan perjalanan ke Tabuk dengan jalan kaki, dan beberapa kejahatan kaum munafik seperti penghinaan terhadap Rasulullah dan ayat-ayat Allah dan turunya ayat-ayat Alquran yang mengungkap tipu daya dan rencana jahat mereka.

Ketika pasukan Islam tiba di Tabuk dan menetap sekitar 20 hari. Hal ini beliau lakukan untuk menunjukkan bahwa pasukan Islam tidak takut terhadap pasukan Romawi dan para sekutu mereka. Dalam hal ini biasanya, untuk menunjukkan keberanian pasukan hanya menetap di medan perang paling lama tiga hari. Namun, sebaliknya ketika pasukan Romawi dan sekutu-sekutunya sudah mendengar Rasulullah menggalang pasukan, muncul ketakutan dan kekhawatiran yang merambati hati mereka, sehingga mereka tidak berani maju atau langsung merencanakan serangan. Mereka berpencar di batas wilayah mereka sendiri. Tentu saja hal tersebut menjadikan pamor umat Islam semakin menjulang tinggi. Selain itu, selama menetap 20 hari di Tabuk, Rasulullah membuat kesepakatan dengan suku-suku Arab yaitu berupa perdamaian dengan penduduk Ailah, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Tabuk, Rasulullah didatangi Yuhannah bin Ru’bah, yaitu pemimpin Ailah, yang kemudian berdamai dengan beliau dan membayar jizyah kepada beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga didatangi oleh Jarba’ dan Adzruh. Merekapun membayar jizyah kepada beliau, setelah itu Rasulullah menulis surat perjanjian untuk mereka.” Hal itu adalah kemenangan yang luar biasa. Rasulullah pun menggunakan kesempatan di Tabuk dengan mengirim pasukan Sariyah yang berjumlah 420 orang yang dipimpin oleh Khalid bin Walid ke Daumatul Jandal dengan misi strategis, yaitu memberi peringatan kepada raja-raja Arab Nasrani yang menjadi mata-mata dari Romawi. 

Pasukan Islam meninggalkan Tabuk dengan membawa kemenangan yang luar biasa, tanpa mengalami tekanan musuh sedikit pun. Hal pertama yang dilakukan Rasulullah sesampainya di Madinah adalah melakukan salat dua rakaat di Masjid Nabawi kemudian bercengkrama dengan orang-orang di sana. Di waktu yang sama, datang orang-orang munafik yang tidak ikut perang Tabuk, jumlahnya delapan puluh orang lebih. Mereka beralasan untuk meminta maaf kepada Rasulullah. Bahkan mereka berani bersumpah untuk memperkuat alasan mereka yang dibuat-buat itu. Rasulullah menerima apa yang mereka ungkapkan secara lahiriah, kemudian beliau memohonkan ampunan untuk mereka dan menyerahkan isi hati yang mereka sembunyikan kepada Allah. Setelah itu, datanglah tiga orang sahabat yang juga tidak ikut ke Tabuk. Tiga orang tersebut yaitu Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah, beda halnya dengan mereka. Mereka mengemukakan alasan tidak ikut ke Tabuk dengan alasan yang apa adanya, tidak dibuat-buat. Namun, Rasulullah memberikan hukuman kepada mereka, yaitu melarang mereka  berbicara kepada para Sahabat lainnya dan mereka juga harus melakukan isolasi secara total dengan orang-orang Mukmin. 

Selain itu, ada salah satu peristiwa penting setelah kembalinya Rasulullah dari Tabuk bersama kaum Muslimin. Beliau kedatangan utusan raja negeri Himyar yang membawa keislaman mereka, yaitu Raja Harits bin Abdi Kulal, Raja Nu’aim bin Abdi Kulal, Raja Nu’man Qail Dzu Ru’ain, Raja Ma’afir, dan Raja Hamdan. Adapun orang yang diutus mereka itu bernama Zu’rah Dzu Yazan Malik bin Murah ar-Rahawi. Utusan ini membawa berita yang disampaikan kepada Rasulullah yang menerangkan bahwa mereka (raja-raja Himyar) telah masuk Islam dan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan dari orang yang berbuat syirik kepada Allah. Kemudian penghancuran berhala Latta di Bani Tsaqif dan kedatangan Urwan bin Mas’ud. 

Referensi

Hakim, Mansur Abdul. 2016. Ghulibat Ar-Rum: Bangsa Romawi dan Perang Akhir Zaman. Jakarta. Pustaka al-Kautsar. 

Ahmad, Mahdi. Tth. Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analisis Berdasarkan Sumber-Sumber yang Otentik. Jakarta. Qithi Press.

Cholil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW Jilid 5. Jakarta. Gema Insani Press.

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurahman. 2019. Ar-Rahiq al-Makhtum. Terj. Ferry Irawan. Jakarta Timur. Ummul Qura. 

Bin Hisyam Al-Muafiri, Abu Muhammad Abdul Malik. 2018. As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam. Terj. Fadhli Bahri. Bekasi. PT Darul Falah. 

Kontributor: Titin Nurjanah, Semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *