GERAKAN SOSIAL KEAGAMAAN KIAI HASAN MAOLANI (1782-1874 M) KUNINGAN JAWA BARAT

KAJIAN ISLAM, SEJARAH DAN ASAS MODERATISME

“GERAKAN SOSIAL KEAGAMAAN KIAI HASAN MAOLANI (1782-1874 M)
KUNINGAN JAWA BARAT”

Ma’had Aly – Pada tanggal 27 Februari 2021 pukul 10.30-12.00 WIB, mahasantri Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta Takhassus Sejarah Peradaban Islam mengikuti webinar dengan tema “Kajian Islam, Sejarah dan Asas Moderatisme: Program Bedah 60 Hasil Penelitian Tesis dan Disertasi” yang diselanggarakan oleh Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah sendiri. Dalam webinar sesi pertama ini, judul tesis yang dibedah adalah “Gerakan Sosial Keagamaan Kiai Hasan Maolani (1782-1874) Kuningan Jawa Barat” yang merupakan hasil penelitian dari Agus Kusman, S.Hum. MA. Dalam webinar ini banyak sekali manfaat dan pengetahuan yang kami dapat, terutama bagi mahasantri yang mengambil Takhassus Sejarah Peradaban Islam seperti kami. Hal tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan terhadap kesejarahan Islam terutama di Nusantara. Lebih jelasnya akan kami paparkan hasil review kami terhadap webinar ini.

______________________________________

Kajian Islam, Sejarah dan Asas Moderatisme: Program Bedah 60 Hasil Penelitian Tesis dan Disertasi Seri #1 menghadirkan Agus Kusman, S.Hum. MA. Ia merupakan Direktur Eksekutif Kuningan Institute dan mahasiswa semester akhir Sekolah Pascasarjana Universitas Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dalam kesempatan ini, ia membedah hasil penelitiannya yang merupakan tesis sejarah yang berjudul “Gerakan sosial Keagamaan Kiai Hasan Maolani (1782-1874) Kuningan Jawa Barat”. Ia melakukan penelitian ini sebagai bentuk apresiasi terhadap Kiai Hasan Maolani yang merupakan sosok ulama lokal dari Kuningan yang sangat berpengaruh di Nusantara. Dalam penelitian ini, Agus Kusman menyebutkan rentang waktu yang diteliti dari sosok Kiai Hasan Maolani berkisar antara tahun 1782-1872 yang merupakan rentang waktu dari lahir hingga wafat. Menurut Kang Agus, dalam melakukan penelitan rentang waktu sangat penting supaya hasil penelitian lebih spesifik dan fokus. Tesis ini fokus meneliti terkait gerakan sosial keagamaan yang digagas oleh Kiai Hasan Maolani dengan tujuan mengetahui latar belakang gerakan sosial tersebut. 

Dalam hal ini, metode penelitian yang digunakan Kang Agus sesuai dengan fokus penelitian yaitu gerakan sosial keagamaan dari sosok Kiai Hasan Maolani, ia mengambil sebuah teori yang dirumuskan oleh Neil J. Smelser, bahwa setiap terjadinya gerakan sosial, ada enam faktor determinan yaitu kondusifitas struktural, ketegangan sosial, pertumbuhan dan penyebaran keyakinan umum, faktor-faktor pencetus, mobilitas untuk melakukan aksi, dan yang terakhir pengoperasian kontrol sosial. Selain itu, demi mendapatkan informasi dan data-data yang sesuai dengan ilmu sejarah, ia juga menggunakan metode penelitian sejarah mulai dari heuristik, verifikasi, interpretasi, sampai historiografi.

Selain itu, Kang Agus juga menjelaskan beberapa  poin dari hasil penelitian yang ia lakukan bahwa Kiai Hasan Maolani merupakan ulama lokal Nusantara yang berasal dari Kuningan Jawa Barat. Dalam jalur silsilah Kiai Hasan Maolani mempunyai hubungan darah dengan Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Dari jalur ayah ada beberapa hal yaitu diantaranya berdasarkan naskah silsilah yang disusun oleh Hasan Mugni, dituliskan bahwa Kiai Hasan maolani adalah keturunan ke-12 Sunan Gunung Jati dari jalur Pangeran Pasarean, dan mempunyai garis keturunan darah biru dari Kesultanan Cirebon. 

Dilihat dari kondisi sosial, Kuningan merupakan wilayah kecil di bawah keresidenan Cirebon. Sosok kiai, ustadz dan ajengan di Jawa barat mendapatkan posisi sosial yang tinggi di tengah-tengah masyarakat. Hal ini menyebabkan sosok Kiai Hasan Maolani menjadi tokoh yang disegani oleh masyarakat setempat. Kehidupan Kiai yang selalu ada di masyarakat dan dihormati telah membuat kedekatan dengan masyarakatnya. 

Kang Agus menyebutkan dalam webinar tersebut bahwa gerakan sosial keagamaan Kiai Hasan Maolani terjadi ketika pihak kolonial Belanda menerapkan sistem tanam paksa yang sangat meresahkan masyarakat. Dalam hal ini, dengan hadirnya Kiai Hasan Maolani menjadi tempat mengutarakan keluh kesah/curhat para rakyat terkait perlakuan kolonial belanda. Bahkan Kang Agus menyebutkan ada lebih dari 300 orang datang kepada Kiai Hasan setiap harinya untuk meminta wejangan dan nasihat-nasihat ia. Dalam gerakan ini, sosok Kiai Hasan Maolani menggunakan Tarekat Syattariyah sebagai pendekatan keagamaan yang merupakan ijazah dari Syekh Abdul Muhyi Safarwadi, Pamijahan, Tasikmalaya, jawa Barat. 

Selain itu, gerakan jihad juga mempercepat gerakan sosial keagamaan di Kuningan, kebangkitan agama islam menimbulkan kesadaran di kalangan masyarakat bahwa negara mereka sedang dijajah oleh penjajah. Hal ini terbukti dari pergerakan Kiai Hasan Maolani, di dalam kitab Fathul Qarib ada sebuah bab yang menjelaskan tentang jihad. 

Ada beberapa faktor yang yang melatar belakangi gerakan sosial keagamaan Kiai Hasan Maolani di antaranya sosial, ekonomi, dan politik. Faktor sosial yang melatarbelakangi gerakan sosial bahwa Kiai Hasan Maolani merupakan sosok ulama yang disegani masyarakat, sehingga petuah, nasihat bahkan ajakan ia lebih didengar dan diikuti oleh masyarakat daripada himbauan dari pihak pemerintah kolonial belanda. Hal inilah yang menjadi alasan utama pemerintah kolonial belanda merasa terancam dengan eksistensi Kiai Hasan Maolani.

Faktor ekonomi yang melatarbelakangi Kiai Hasan Maolani melakukan gerakan sosial adalah banyaknya masyarakat yang mengadu kepadanya tentang kondisi kerja paksa menanam nila dan kopi. Banyak masyarakat yang menjadi korban dari tanam paksa, seperti meninggal dalam kelelahan atau meninggal diterkam binatang buas. 

Kebijakan politik yang dilakukan oleh pemerintah kolonial dalam merombak sistem peradilan tradisional yang sudah mengakar dan menggantinya dengan sistem peradilan menurut hukum kolonial Belanda yang telah berdampak kepada kehidupan masyarakat pribumi. Pemerintah kolonial Belanda juga mengeluarkan kebijakan untuk memata-matai pergerakan KH. Hasan Maolani  di masyarakat. Pihak yang diperintahkan memata-matai kemudian memberikan laporan rutin kepada bupati dan residen tentang perkembangannya. 

Demikian review tentang program bedah tesis ini yang kami harap akan sangat bermanfaat untuk para pendengar, terutama bagi para mahasantri/mahasiswa yang mengambil takhassus Sejarah Peradaban Islam. Selain mendapatkan ilmu sejarah kenusantaraan melalui sosok Kiai Hasan Maolani ini, melalui program ini Kang Agus selaku peneliti membimbing bagaimana cara/trik serta persiapan yang harus dilakukan dalam penelitian sejarah. Tentu saja hal ini sangat penting sebagai persiapan kami sebagai mahasantri Sejarah Peradaban Islam untuk melakukan penelitian. Semoga di sesi-sesi selanjutnya akan lebih menginspirasi dan memberikan manfaat untuk para pendengar nanti. Sekian review dari kami, terima kasih.

Oleh: Winda Khoerun Nisa, Semester 2 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *