Dari Orator Cantik hingga Tsabit bin Qais, Sang Jubir Rasulullah saw

Ma’had Aly – Aksi demonstrasi tolak Undang-Undang Omnibus Law terjadi di seluruh penjuru negeri. Berbagai aspirasi disuarakan dalam demonstrasi tersebut. Salah satu oratornya, Nabila Syadza, mahasiswi cantik dari Universitas Hasanudin Makassar dalam video orasinya, viral dan mendapat banyak komentar positif dari netizen.

Tahukah kalian? Sosok orator telah ada sejak zaman Rasulullah saw. Ialah Tsabit bin Qais, salah satu sahabat nabi yang tidak perlu diragukan lagi keimanannya.

Tsabit bin Qais adalah juru bicara Rasulullah saw. Kalimat dan kata-katanya kuat, padat, keras, tegas, dan mempesona. Pada tahun dimana kedatangan para delegasi dari berbagai penjuru, utusan Bani Tamim pun tidak ketinggalan datang ke Madinah dan mengatakan kepada Rasulullah saw., “Kami datang untuk menunjukkan kebanggaan kami kepadamu, maka izinkanlah kepada penyair dan juru bicara kami untuk menyampaikannya!” 

Rasulullah saw. tersenyum, kemudian bersabda, “Aku telah mengizinkan juru bicara kalian, silahkan berbicara!”

Juru bicara mereka, Utharid bin Hajib berdiri dan mulai membanggakan kelebihan-kelebihan kaumnya. Ketika selesai pembicaraannya, Rasulullah saw. bersabda kepada Tsabit bin Qais, “Berdirilah dan jawablah!”

Tsabit bin Qais pun bangkit, kemudian berkata, “Segala puji bagi Allah, segala yang ada di langit dan bumi adalah ciptaan-Nya, dan titah-Nya telah berlaku padanya. Ilmu-Nya meliputi kerajaan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan karunia-Nya. Kemudian dengan kehendak-Nya, Dia menjadikan kami sebagai imam dan memilih dari makhluk-Nya yang terbaik seorang utusan, yang paling mulia keturunannya, paling benar tutur katanya, dan paling utama kedudukannya. Kitab-Nya diturunkan kepadanya dan dipercayakan kepadanya di atas makhluk-Nya. Itu berarti ia adalah pilihan Allah dari yang ada di alam ini. Kemudian ia menyeru manusia agar beriman kepada-Nya, sehingga orang-orang Muhajirin dari kalangan kaum dan kerabatnya pun beriman. Mereka adalah orang-orang yang termulia keturunannya, dan yang paling baik amal perbuatannya. Setelah itu, kami orang-orang Anshar adalah yang pertama menyambut seruannya. Kami adalah pembela-pembela agama Allah dan pendukung Rasul-Nya.” 

Kalimat tersebut keluar dari mulut Tsabit bin Qais dengan fasih, sehingga delegasi Bani Tamim tadi terkagum-kagum dan tidak dapat menolaknya.

Tsabit bin Qais pernah ikut bergabung dalam perang Uhud bersama Rasulullah saw. dan peperangan-peperangan penting lainnya. Pengorbanannya sangat menakjubkan. Dalam setiap peperangan menumpas orang-orang murtad, ia selalu berada di barisan terdepan, membawa bendera Anshar, dan ia menebaskan pedangnya yang tidak pernah tumpul pada lawannya.

Ketika perang Yamamah, Tsabit bin Qais melihat terjadinya serangan mendadak yang dilancarkan oleh tentara Musailamah Al-Kadzdzab terhadap kaum muslimin pada awal pertempuran. Karena itu, ia berteriak dengan keras seraya memberi peringatan, “Demi Allah, bukan begini caranya kami berperang bersama Rasulullah saw.”

Kemudian ia pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh, dan beberapa saat kemudian ia kembali dalam kondisi badan layaknya mumi dan memakai kain kafan, lalu berteriak lagi, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dibawa oleh mereka (yakni tentara Musailamah). Dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka (yakni kaum muslimin yang semangatnya menurun dalam peperangan).”

Saat itu juga Salim, mantan budak Rasulullah saw. bergabung dengannya. Ia adalah pembawa bendera kaum Muhajirin. Keduanya menggali lubang yang dalam untuk mereka berdua. Kemudian mereka berdua masuk dan berdiri di dalamnya, lalu menimbun badan dengan pasir sampai menutupi setengah badan. Demikianlah mereka berdiri tidak ubahnya bagaikan dua tonggak yang kokoh.

Setelah badan mereka terbenam ke dalam pasir dan terpaku ke dasar lubang, sedangkan setengah bagian atas dadanya, kening, dan kedua lengan mereka siap menghadapi tentara Musailamah Al-Kadzdzab. Mereka berdua senantiasa memukulkan pedang terhadap setiap tentara Musailamah yang mendekat, sampai akhirnya mereka berdua gugur syahid di tempat itu.

Peristiwa syahidnya kedua pahlawan tersebut bagaikan pekikan dahsyat yang menghimbau kaum muslimin agar segera kembali kepada kedudukan mereka hingga akhirnya mereka berhasil menghancurkan tentara Musailamah. Mereka tersungkur menutupi tanah bekas mereka berpijak.

Tsabit bin Qais yang unggul sebagai orator dan sebagai prajurit itu memiliki jiwa yang selalu ingin kembali kepada Allah dan hati yang khusyuk dan tenteram. Ia merupakan sosok muslim yang paling takut dan malu kepada Allah. 

“Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Ketika turun ayat di atas, Tsabit menutup pintu rumahnya dan duduk menangis. Ia tetap dalam keadaan itu dalam waktu yang lama, hingga beritanya sampai kepada Rasulullah saw., akhirnya beliau memanggil dan menanyainya. Tsabit menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini menyukai pakaian yang indah dan alas kaki yang bagus. Aku takut bila karena itu aku menjadi orang yang congkak dan sombong.

Rasulullah saw. menanggapi jawabannya itu sambil tertawa senang, “Engkau tidak masuk dalam golongan mereka. Sebaliknya, engkau hidup dalam kebaikan, mati dalam kebaikan, dan engkau akan masuk surga.”

Ketika turun firman Allah swt.:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 2)

Tsabit menutup pintu rumahnya dan terus menangis. Rasulullah saw mencarinya dan tidak menemukan, kemudian mengutus seseorang agar memanggilnya dan ia pun datang menemui beliau. Beliau menanyakan sebab ketiadaannya.

Tsabit menjawab, “Aku ini orang bersuara keras dan pernah meninggikan suaraku lebih tinggi daripada suaramu, wahai Rasulullah. Ini berarti amalku menjadi gugur dan aku termasuk penduduk neraka.”

Rasulullah saw. menanggapi, “Engkau tidaklah termasuk salah seorang diantara mereka, bahkan engkau hidup terpuji. Engkau akan berperang hingga gugur syahid, dan Allah swt akan memasukkanmu ke dalam surga.”

Masih ada satu peristiwa dalam kisah Tsabit bin Qais ini, yang kadang membuat tak nyaman orang-orang yang orientasi pikiran, perasaan, dan mimpi mereka hanya terfokus kepada dunia materi yang sempit, yang bisa mereka sentuh, lihat, dan cium. Meski demikian, peristiwa itu benar-benar terjadi dan bisa diinterpretasikan secara nyata dan mudah bagi setiap orang yang mampu menggunakan mata batin, di samping mempergunakan mata lahir.

Setelah Tsabit bin Qais menemui kesyahidan di medan pertempuran, seorang muslim yang baru masuk Islam melintas di dekatnya dan melihat pada tubuh Tsabit masih ada baju besinya yang berharga. Menurut dugaannya ia berhak mengambilnya untuk dirinya. Dan ia pun mengambilnya. Mari kita serahkan saja kepada perawi kisah tersebut agar menceritakannya kepada kita:

Saat seorang laki-laki muslim sedang tidur nyenyak, ia bermimpi didatangi Tsabit bin Qais dalam tidurnya dan berkata kepadanya, “Aku hendak mewasiatkan kepadamu satu wasiat, tetapi jangan sampai engkau katakan bahwa ini hanya mimpi lalu kamu sia-siakan. Ketika aku gugur syahid, seorang muslim melintas di dekatku, lalu mengambil baju besiku. Rumahnya sangat jauh dan kudanya selalu dalam ikatan tali kekangnya. Baju besi itu disimpan dan ditutupi sebuah periuk besar, dan periuk itu ditutupi pelana unta. Temui Khalid bin Al-Walid dan mintalah agar mengirimkan orang untuk mengambilnya. Dan bila engkau telah sampai di Madinah dan menghadap Khalifah Abu Bakar, katakanlah kepadanya bahwa aku mempunyai utang sekian banyaknya, dan aku berharap ia bersedia membayarnya.”

Ketika laki-laki itu terbangun dari tidurnya, ia menghadap kepada Khalid bin Al-Walid, lalu menceritakan mimpinya. Khalid pun mengutus seseorang untuk mencari dan mengambil baju besi itu, dan orang tersebut mampu menemukannya di tempat yang sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Tsabit bin Qais.

Setelah kaum muslimin pulang kembali ke Madinah, orang tersebut menceritakan mimpinya kepada khalifah, dan beliau pun melaksanakan wasiat Tsabit bin Qais. Satu-satunya wasiat yang terlaksana dengan sempurna dari seorang yang telah meninggal ialah wasiatnya Tsabit bin Qais. Ternyata benar, bahwa Allah itu memiliki rahasia yang besar. Allah swt. berfirman:

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dan mendapat rezeki.” (QS. Ali ‘imran: 169)

Wallahu a’lam bisshowab.

Referensi

Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. 2013. Ar-Rahiiq al-Makhtum. Riyadh: Muntada al-Tsaqafy

___________________. 2001. Sirah Nabawiyah (Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad saw.). Terj. Hanif Yahya. Sunt. Abu Bakar Muhammad  Altway. Jakarta: Darul Haq

Ahmad Al-Usairy. 2016. Sejarah Islam. Terj. Samson Rahman. Sunt. Harlis Kurniawan. Jakarta: Akbar Media

Abdul Malik Ibnu Hisyam. 2008. As-Siirotun Nabawiyyah. Kairo: Al-Maktab al-Tsaqafy

Ibnu Katsir. 2010. Sirah Nabi Muhammad. Terj. Abu Ihsan Al-Atsari. Sunt. Ahmad Khatib, Imanudin, dan Handi Wibowo. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Ibnu Ishaq. 2017. Sirah Nabawiyah. Terj. Samson Rahman. Sunt. Tim Akbar. Jakarta: Akbar Media

Muhammad Khalid. 2015. Biografi 60 Sahabat Rasulullah. Jakarta: Qisthi Press

Muhammad Ali. 2016. Abthalul fathil Islamy. Terj. Umar Mujtahid. Sunt. Firman Afianto, dan Arif Mahmudi. Jakarta: Ummul Qura

Dedi Supriyadi. 2008.  Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia

Abdurrahman Umairah. 2000. Tokoh-tokoh yang Diabadikan Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani PressBadri Yatim. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Kontributor: Iman Suhaemi, Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *