Biografi KH. Ahyad Bakry bin Mama Bakry

Ma’had Aly  


Riwayat Keluarga KH. Ahyad Bakry

KH. Ahyad Bakry adalah seorang kiai yang kharismatik yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan yang kental akan keagamaannya dan kemudian dikenal luas oleh kalangan masyarakat Bogor, terutama di daerah kecamatan Citeureup dan sekitarnya yang berada di Bogor Timur. Beliau merupakan seorang tokoh yang multitalenta. Bukan hanya ahli dalam bidang ilmu agama, tapi juga dalam bidang ilmu sosial dan politik. 

Abah haji, demikian masyarakat memanggilnya. Ada juga yang menyapanya dengan Uwa Haji, atau Mama Haji dan panggilan-panggilan lainnya sebagai tanda seorang tokoh yang dihormati dan disepuhkan. Beliau lahir tanggal 2 Februari 1930 di desa Sadeng, kecamatan Leuwiliang, kabupaten Bogor, Jawa Barat. KH. Ahyad dibesarkan di dalam keluarga alim yang cinta tanah  air. Ayahnya adalah Mama Bakry merupakan seorang ulama terkemuka di daerah Bogor, dan merupakan tokoh pejuang yang ikut andil dalam kemerdekaan bangsa ini. Beliau beserta kawan, kolega, dan santri-santrinya berjuang gigih mempertahankan kehormatan tanah air dari para penjajah. Mama Bakry merupakan salah seorang sahabat dari founding father, yaitu Ir. Soekarno. Jika Ir. Soekarno sedang berada di Bogor Pasti berkunjung ke kediaman Mama Bakry. Diceritakan bahwa, mereka berdua pernah menunggang kuda melewati sepanjang jalan di kecamatan Jasinga Bogor yang menghubungkan hingga ke daerah Banten. 

Secara garis keturunan, KH. Ahyad selain berasal dari keturunan kiai, beliau merupakan keturunan dari keluarga kesultanan Banten melalui ayah, Mama Bakry. Walaupun belum ada data pasti mengenai nasab secara urut, tapi dari berbagai sumber menyepakati bahwa silsilah keturunan beliau sampai kepada Syeikh Maulana Mansur Cikaduen Banten yang merupakan Sultan ke-7 Banten berdarah bangsawan putra dari Sultan Ageng Tirtayasa (Raja Banten ke 6) penyebar agama Islam di wilayah Banten Selatan, atau kalau sekarang Pandeglang dan sekitarnya. Beliau berkuasa sekitar 1651 di Kesultanan Banten. Nasab Syeikh Maulana Mansur bersambung hingga ke Syeikh Mulana Yusuf bin Syeikh Maulana Hasanuddin bin Syeikh Syarif  Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Begitu pula garis keturunan dari pihak ibu juga keturunan kiai, KH. Ahyad Bakry bin Hj. Aisyah binti KH. Asyari.

Riwayat belajar KH. Ahyad Bakry 

Lahir dari keluarga kiai, KH Ahyad kecil mendapat pendidikan agama langsung dari ayahnya. Mama Bakry mendidik anakya dengan tegas dan telaten. Beliau dididik ilmu keagamaan, dipupuki ilmu ketauhidan, ditanamkan rasa cinta tanah air, diimbangi dengan kasih sayang ibunya yang shalihah, sehingga KH. Ahyad tumbuh menjadi sosok yang kental dalam ilmu agama, memiliki rasa peduli akan kemausiaan, dan mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi.  

Selanjutnya KH. Ahyad nyantri kepada Mama Siddiq seorang ulama pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul ‘Awamil di Cangkudu Banten yang merupakan guru ayahnya, Mama Bakry. Pesantren Riyadlul ‘Awamil termasuk pesantren sepuh dan terkenal. Didirikam ole Mama Siddiq sekitar tahun 1908, berbarengan dengan didirikannya pergerakan Budi Utomo. Kini Pesantren itu dipimpin oleh KH. Sonhaji. Pada Mama Shiddiq ia belajar ilmu nahwu-sharaf dari mulai kitab Awamil, Jurumiyyah, hingga Alfiyah. Beliau juga belajar ilmu Fiqih, tauhid dan bidang keilmuan lainnya.

Kemudian KH. Ahyad Bakry melanjutkan mondok di Pesantren Riyadul ‘Aliyah Bogor, yang dipimpin oleh Mama KH. Royani yang merupakan tokoh penyebar Ahlussunah Wal Jama’ah dan termasuk tokoh NU di Bogor. Kemudian diteruskan Oleh putranya KH. Mama Mukhtar Royani yang juga menjadi tokoh penting NU di Bogor. KH Ahyad pernah berguru kepada Abuya Dimyati Banten, salah satu tokoh ulama Nusantara. Beliau adalah ayah dari Abuya Muhtadi, Mustasyar PBNU. Dan juga pernah berguru kepada ulama terkemuka, yaitu KH. Aang Nuh Gentur Cianjur. 

KH. Ahyad berguru kepada ulama-ulama Nusantara yang lainnya dan juga aktif dalam organisasi yang bersifat sosial kemanusiaan. Alhasil, ia menguasai berbagai macam keilmuan dari fan ilmu agama, sosial dan politik. Melihat sanad keilmuan dari para gurunya, menunjukan kepakaran dan kapasitas keilmuan KH. Ahyad Bakry yang mumpuni.

Membangun Rumah Tangga

Selama hayatnya, KH. Ahyad Bakry pernah menikah sebanyak empat kali. Perkawinan yang pertama adalah ketika ia masih berada di tanah kelahirannya, di Sadeng, Bogor barat. Istri pertamanya adalah Umi Hj. Iyos, dikaruniai dua putri, yaitu:

  1. Khomsiah
  2. Jujum 

Perkawinan keduanya, setelah berada di Citeureup, Bogor Timur. Ia memperistri Umi Hj. Mumun ‘Ainul Muftiah, salah satu putri dari tokoh agama setempat, yaitu dari pasangan H. Sulaiman dan Umi Hj. Rofi’ah, yang kemudian menjadi cikal bakal sepak terjang dakwah KH Ahyad sampai akhir hayatnya. Dari Umi Hj. Mumun, ia dikaruniai tujuh anak:

  1. H. Ali Rahmatullah
  2. H. Dedi Hidayatullah
  3. Enday 
  4. Eneng Nurul Fadilah
  5. Ai Nurul Fuad
  6. Enda Nurul Lida
  7. H. Syihabuddin 

Istri ketiganya adalah Ibu Uun, mempunyai tiga anak:

  1. Tuti Alawiyah
  2. Tati
  3. Wati 

Kemudian istri ke empatnya adalah Umi Hj. Maskiyah, yang merupakan seorang janda anak dua yang kemudian menemani perjalanan hidupnya hingga akhir hayat. Putra Umi Hj. Maskiyah yang dibawa adalah Farid dan Ridwan. Sedangkan dari pasangan KH. Ahyad dan Umi Hj. Maskiyah dikaruniai satu anak, yaitu Yusuf Mahdani Bakry. 

Mulai Mengabdikan Dirinya di Masyarakat

Di awal-awal masa mudanya, KH. Ahyad Bakry sudah membantu ayahnya berdakwah di masyarakat khususnya masyarakat desa Sadeng tempat kelahirannya yang berada di kecamatan Leuwiliang, Bogor Barat. Kini tempat itu menjadi Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Pendirinya adalah KH. Uqon Bulqoeny, menantu dari Mama Bakry. 

KH. Ahyad banyak terlibat dalam event yang mengangkat tema kemanusiaan. Kemudian setelah mempunyai istri Umi Hj. Iyos, ia mulai berdakwah sambil berdagang dari satu daerah ke daerah lain mengikuti jejak langkah junjungan agung Nabi Muhammad SAW. Sayangnya, data terkait kehidupannya bersama Umi Hj. Iyos tidak banyak ditemukan riwayat dan referensinya.

Kemudian ketika beliau berdagang, pada saat mengirim barang dagangannya ke daerah Bogor Timur, tepatnya di kecamatan Citeureup, desa Leuwinutug, beliau bertemu dengan seorang wanita yaitu Mumun ‘Ainul Muftiah, putri dari pasangan H. Sulaiman dan Umi Hj. Rofi’ah, tokoh agama setempat. Kemudian KH. Ahyad mempersuntingnya dan pada akhirnya menetap di desa Leuwinutug kecamatan Citeureup.

KH. Ahyad melihat kondisi penduduk masyarakat Citeureup begitu multietnis, karena di kecamatan tersebut termasuk dalam wilayah industri di kabupaten Bogor. Ada lima kecamatan yang termasuk wilayah industri, yaitu kecamatan Citeureup, Babakan Madang, Gunung Putri, Cileungsi, dan Klapa Nunggal. Banyak terdapat pabrik yang menjadi tempat mata pencaharian masyarakat sekitar selain berdagang dan menjadi guru. Di sana juga terdapat tempat-tempat yang berpotensi didatangi banyak orang, seperti Sirkuit Sentul dan lain sebagainya. Itu menyebabkan banyaknya para pendatang dari berbagai daerah seperti etnis jawa, betawi, minang, batak, madura dll. Akan tetapi, masyarakat asli kecamatan ini adalah etnis sunda. Berbagai keberagaman dalam agama pun tampak di daerah tersebut. Bahkan masih banyak masyarakat yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Dengan memperistri putri dari tokoh agama setempat ini menjadi vitamin bagi racun-racun akidah yang menyesatkan. 

Dengan ilmu yang sudah mumpuni, akhirnya KH. Ahyad Bakry mulai berdakwah di daerah tersebut besama dengan istri dan mertuanya. Ia mulai mengajar ngaji anak-anak membaca al-Qur’an, menuntun masyarakat sedikit demi sedikit menuju titik terang dari kegelapan. Tentunya bukan perkara mudah menghilangkan kepercayaan animisme pada masyarakat yang masih memiliki suatu kepercayaan pada roh-roh leluhur mereka. Mempercayai kekuatan-kekuatan ghaib, dan hal-hal ghaib tersebut dipercayai sebagai roh-roh nenek moyang. Belum lagi masyarakat yang masih menganut kepercayaan dinamisme, yaitu kepercayaan pada benda-benda ghaib, sebagai contoh pohon beringin yang besar, mereka yang menganut dinamisme percaya bahwa pohon tersebut memiliki kekuatan yang berbeda dari pohon-pohon yang lain. Mereka kadang menaruh sesaji dibawah pohon, melakukan ritual-ritual dan meminta sesuatu dari pohon tersebut karena mereka percaya pohon tersebut memiliki energi ghaib yang bisa di-transfer kepada mereka atau dapat mengabulkan permintaan mereka.

K.H. Ahyad Bakry terus-menerus melakukan aktivitas dakwahnya dengan sabar, pelan-pelan, dan terus bertawakal kepada Allah SWT. Akhirnya sedikit demi sedikit masyarakat mulai sadar dan mau untuk membenahi akidah yang pada akhirnya ikut berjuang dalam dakwah menyebarkan risalah agama yang mulia ini.

Dalam perjalanan dakwahnya, istrinya kemudian wafat di usia muda. Kemudian KH. Ahyad Bakry meneruskan perjuangannya didampingi istrinya Umi Hj. Maskiyah hingga akhir hayatnya. Sementara istri ketiganya, Umi Uun, tidak banyak ditemukan riwayatnya. 

Berhadapan dengan Para Jawara

Dikisahkan, pada saat pengaruh dakwah KH. Ahyad Bakry mulai berkembang, banyak orang yang tidak senang dengan kegiatan dakwahnya, terutama para preman dan pendekar atau dalam istilah sunda dikenal dengan jawara atau jeger. Mereka jago dalam ilmu kanuragan dan kedigjayaan. Namun sayangnya hati mereka belum terbuka untuk melihat cahaya Islam. Alhasil mereka selalu menentang segala upaya dakwah yang dilakukan oleh KH. Ahyad. Mereka masih melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama seperti perjudian, mabuk-mabukan dan segala aktivitas yang bersifat premanisme. Mereka sering memprakarsai acara-acara seperti jaipongan, dangdutan, berpesta ria dengan para wanita dan acara-acara lain yang melanggar syariat agama. 

Namun KH. Ahyad Bakry tidak semerta-merta langsung membubarkannya atau memberantas para jawara itu secara langsung. Padahal melihat pengaruhnya pada saat itu mampu untuk memberantasnya dengan membubarkan praktik-praktik yang melanggar syariat, tapi justru ia membiarkannya terlebih dahulu. Bukan berarti membiarkan pelanggaran syariat, akan tetapi KH. Ahyad berpikiran dengan membubarkannya langsung bukan malah membuat para preman itu sadar tapi makin menambah kebenciannya terhadap dakwah Islam. 

Melihat pengaruh dakwah KH. Ahyad Bakry semakin berkembang, para jawara itu akhirnya jengkel dan berencana menemui beliau dan akan menantangnya. Saat bertemu langsung dengan KH. Ahyad, para jawara itu yang semula nafsunya berkobar mendadak menciut ketika bertatapan dan berhadapan langsung dengan beliau. Aura kharismatiknya dapat meluluhkan keberanian. Akhirnya para jawara itu tidak jadi menantang KH. Ahyad, tapi malah dinasihati dengan hikmah-hikmah agama. 

Setelah pertemuan itu para jawara tersebut sering berkunjung ke kediaman KH. Ahyad untuk sekadar ngobrol santai dan mendengarkan nasihat agama dari beliau. Pada akhirnya para preman itu bertaubat dan sering ikut mengaji di majelis KH. Ahyad Bakry, sampai mau untuk menunaikan ibadah haji. Tercatat ada lima jawara yang berangkat ke tanah suci. Selanjutnya sampai pada tahap ikut berjuang dalam menegakkan agama Islam.

Kiprahnya di Masyarakat

Selain aktif dalam kegiatan dakwah dari masjid ke masjid, dari mimbar ke mimbar, KH. Ahyad sering berdakwah di perusahaan-perusahaan, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan dan pemerintahan. KH. Ahyad menjadi tokoh penting di Nahdlatul Ulama dan menjadi tokoh yang berjasa menyebarkan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah An-nahdliyah. Beliau pernah menjadi Dewan Syuro Nahdlatul Ulama di Bogor bersama dengan sahabatnya, Mama KH. Mukhtar Royani sebagai pelaksana (Tanfidziyah). Ia juga aktif dalam MUI di daerah Bogor dan lembaga keagamaan lainnya. 

Sebagai sosok kiai yang kharismatik, gigih berdakwah dan dapat menyelesaikan berbagai masalah menjadikannya tokoh yang sangat dihormati di Bogor, terutama di daerah Citeureup. Banyak orang berdatangan ke rumahnya mengeluhkan berbagai masalah, dari masalah agama, sosial, ekonomi, politik, masalah rumah tangga, atau hanya sekedar bersilaturrahmi dan minta didoakan. 

KH. Ahyad Bakry adalah seseorang yang berjasa dalam pembangunan Masjid Al-Huda dan Masjid Jami’ Nurul Yaqin di desa Leuwinutug dan Masjid daerah lainnya. Beliau juga berjasa dalam pengembangan Madrasah dan Majelis Ta’lim Arrofiah, tempatnya mengabdikan hidup dalam dakwah. Selain itu, KH. Ayhad Bakry termasuk pendiri yayasan sekolah As-shoheh di kecamatan Citeureup, dan pernah menjadi kepala sekolah di yayasan tersebut. 

Beliau wafat pada 14 Maret 2008 bertepatan dengan 7 Rabiul Awwal 1429 H., di desa Leuwinutug kecamatan Citeureup kabupaten Bogor, dan dimakamkan di komplek Pemakaman Sejahtera. Kini Majelis Ta’lim Arrofi’ah diteruskan oleh putranya yaitu KH. Syihabuddin Bakry dan mengalami perkembangan hingga membangun pondok pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Gerbang Islam Arrofi’ah (GIA). Madrasah dan Majelisnya juga diteruskan oleh putra dan putrinya serta sanak saudaranya meneruskan perjuangan pengabdian dalam dakwah Islam. Masjid Jami’ Nurul Yaqin yang dulu beliau rintis kini diteruskan oleh putranya, KH. Syihabuddin dan menantunya, KH. Muhammad Kosasih yang merupakan suami dari Ustdzah Enda Nurul Lida putri KH. Ahyad Bakry, kini menjadi Masjid yang megah dan semakin berkembang. Juga Masjid Jami’ Al-Huda diteruskan oleh murid-muridnya dan sebagian murid KH. Ahyad Bakry juga membangun pondok pesantren di berbagai daerah.

Kemudian anak keturunan Abah KH. Ahyad Bakry juga menyebar berdakwah di berbagai tempat. seperti Ust. Yusuf Mahdani Bakry yang memilih berdakwah di Jakarta, namun juga masih aktif mengajar di Majelis Ta’lim Arrofi’ah. Begitu pula anak cucu keturunannya dididik untuk dapat meneruskan estafet dakwah dalam menyebarkan risalah dan menegakkan agama Islam.

Referensi

Sumber lisan

  1. KH. Jamiunnas (Adik)
  2. KH. Syihabuddin (Anak)
  3. Ust. H. Dedi Hidayatullah (Anak)
  4. Ust. Yusuf Mahdani Bakry (Anak)
  5. Ustadzah Enda Nurul Lida (Anak)
  6. KH. Muhammad Kosasih (Menantu)
  7. KH. Badru (Murid)
  8. Anak dan Cucu KH. Ahyad Bakry
  9. Masyarakat Setempat

Sumber Tulisan

Redaksi (2018-07-16). Sejarah Pesantren Nurul Hidayah Pusat. Yanuhi.com

Buroh (2018-06-08). Wisata Ziarah dan Berdoa Makam Syekh Maulana Mansyuruddin Pandeglang. Nahdlatululama.id

Silsilah Mama Bakry yang tersimpan dalam Forum Silaturrahmi Bani Bakry

Oleh: Muhammad Fadil Wasakil Kosi, Semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *