Balada Cinta Abu al-Ash bin Rabi dan Zainab binti Rasulullah saw

Ma’had Aly –  Jika membicarakan kisah salah satu kerabat Nabi Muhammad,  maka  akan terpusat pada kisah antara Ali bin Abi Thalib dan putri Rasulullah saw yaitu Fatimah az-Zahra. Kisah melegenda yang mengharukan dan kisah mengenai cinta dalam diam yang disatukan dan masih banyak kisah lainnya yang mampu menarik untuk mengetahui kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra, namun tidak kalah mengharukan kisah cinta sejati antara Abu al-Ash bin Rabi dan putri sulung Rasulullah, Zainab.   Kisah antara dua orang yang terikat akan pernikahan, namun perbedaan agama yang memisahkan mereka, akan tetapi mereka tetap saling mencintai walau perpisahan harus terjadi di antara mereka berdua.  

Abu al-Ash bin Rabi merupakan putra saudara perempuan Khadijah yang bernama Halal bin Khuwailid, Abul Ash bin Rabi Al-Absyami Al-Quraisyi adalah seorang pemuda kaya raya, rupawan, memiliki status sosial tinggi sebagai bangsawan, ahli dalam perdagangan dan banyak masyarakat yang menyerahkan harta mereka kepada Abu al-Ash untuk diperdagangkan. Ketika Zainab beranjak dewasa, ia menjadi perempuan idaman bagi pemuda Quraisy pada masa itu, sampai Abu al-Ash jatuh hati kepada anak bibinya ini dan bersegera meminta Zainab kepada bibinya Khadijah untuk dijadikan istri dan kabar gembira pun didapat oleh Abu al-Ash karena bibinya Khadijah dan Rasulullah saw dengan bahagia menerima pinangan Abu al-Ash untuk anaknya Zainab. Pernikahan pun terjadi di antara keduanya dan tak lama kemudian Abu al-Ash memboyong istrinya Zainab ke rumahnya, Khadijah memberikan hadiah pernikahan berupa kalung yang dipakainya dan melepaskan kemudian mengalungkannya di leher Zainab dan tak lupa mendoakan agar keduanya mendapatkan berkah atas pernikahan dua insan yang saling mencintai ini. Indahnya kehidupan mereka berdua sampai-sampai pertemuan terasa begitu singkat dan perpisahan terasa lama dan menyakitkan, antara Zainab dan Abu al-Ash dikaruniai dua anak yaitu Ali bin Abu al- Ash dan Umamah bintI Abu al-Ash.

Pernikahan antara Abu al-Ash dan Zainab terjadi sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi Rasulullah saw dan belum ada dalil mengenai larangan pernikahan berbeda agama. Ketika itu Abu al-Ash pergi berdagang kemudian tersebar berita bahwa seorang Nabi telah muncul yaitu Muhammad bin Abdullah yang tak lain adalah ayah kandung Zainab sendiri, Zainab bergegas menemui ibundanya dan bertanya apakah berita itu benar adanya dan ibunda Khadijah membenarkannya. Begitu bahagianya Zainab dan saudara-saudaranya bahwa ayahnya adalah nabi utusan Allah, dan mereka langsung menyatakan keimanan mereka atas kenabian ayah mereka.  Namun ada terbesit kesedihan dalam hatinya bahwa apa yang dikatakan oleh pamannya yaitu Waraqah bin Naufal bahwa ayahnya menjadi nabi maka beliau akan terusir dan diperangi oleh kaumnya.

Sekembalinya Abu al-Ash dari berdagang, Zainab sangat antusias menceritakan perihal ayahnya yang menjadi nabi dan membujuk Abu al-Ash untuk ikut beriman kepada Allah swt dan Rasulnya namun sangat disayangkan Abu al-Ash menolak permintaan Zainab karena dia tak ingin dikatakan oleh orang orang kafir masuk Islam sebab patuh terhadap istrinya. Namun hal tersebut tak mengurangi rasa hormat Abu al-Ash terhadap Rasulullah saw dan tak sedikit pun mengurangi rasa cinta kepada istrinya Zainab. Namun Zainab selalu mendoakan agar Allah swt membukakan hati Abu al-Ash untuk beriman suatu saat nanti.

Ketika kaum Quraisy semakin kuat menentang Rasulullah saw para kaum Quraisy mendatangi menantu-menantu Rasulullah dari kalangan mereka. Kemudian mereka pergi menemui Utbah bin Abu Lahab, dan mereka berkata padanya “Ceraikan putri Muhammad, niscaya akan kami nikahkan engkau dengan wanita Quraisy manapun yang engkau sukai”. Utbah bin Abu Lahab berkata “Jika kalian menikahkan aku dengan putri Aban bin Sa’id bin al-Ash, aku akan menceraikan putri Muhammad.” Kemudian para orang-orang kafir Quraisy menikahkan Utbah bin Abu Lahab dengan putri Said bin Al-Ash. Dan Utbah bin Abu Lahab menceraikan putri Rasulullah yaitu Ruqaiyyah tanpa pernah menggaulinya. Allah swt menghinakan Utbah bin Abu Lahab dan memuliakan Ruqaiyyah oleh sebabnya Allah memisahkan mereka berdua, kemudian Ruqaiyyah dinikahi oleh sahabat Utsman bin Affan. Dan kemudian kaum Quraisy juga mendatangi Abu al-Ash bin Rabi dan berkata “Ceraikan istrimu, ceraikan putri Muhammad, niscaya akan kami nikahkan engkau dengan wanita Quraisy manapun yang engkau kehendaki”. Abu al-Ash menjawab dengan tegas dan lantang “Tidak. Demi Allah, aku tidak akan menceraikan istriku, aku tidak ingin istriku diganti oleh siapapun bahkan wanita Quraisy sekalipun.” Sesungguhnya perbedaan agama telah menceraikan mereka, namun Rasulullah tidak tega memisahkan keduanya dan pada masa itu belum ada larangan pernikahan berbeda agama. Keduanya masih dengan agama masing-masing, mereka masih saling bersama merajut kisah berdua dan saling mencintai, bahkan Abu al-Ash tidak pernah mengusik apa yang dilakukan istri tercintanya mengenai sesuatu hal yang berhubungan dengan agama Islam namun Zainab selalu mendoakan agar suaminya mendapat hidayah dari Allah swt. 

Hingga saatnya perang Badar pun terjadi, peperangan antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy, Abu al-Ash ikut serta dalam peperangan ini dan masuk ke barisan kaum Quraisy, Zainab merasakan dilema di satu sisi ayahnya mengikuti peperangan ini dan Zainab sangat menghawatirkan ayahnya, di sisi lain ia pun cemas dengan suaminya, hingga kabar pun datang bahwa perang Badar dimenangkan oleh kaum muslimin. Zainab gembira akan adanya kabar tersebut namun ia juga mendengar kabar bahwa suaminya Abu al-Ash ditawan di rumah Rasulullah, sesuai adat yang ada ketika ada tawanan perang maka harus ditebus oleh salah satu kerabatnya hingga pada saat Zainab mendengar kabar ini ia langsung mengutus saudaranya Abu al-Ash untuk datang dan menebus Abu al-Ash dengan membawa kalung pemberian dari ibunda Khadijah. Sesampainya utusan Zainab di tempat Rasulullah beliau menyerahkan kalung yang dibawanya untuk menebus Abu al-Ash, seketika itu Rasulullah berduka, bersedih karena kalung ini merupakan kalung pemberian dari istrinya untuk putrinya Zainab ketika dirinya menikah dengan Abu al-Ash. Sungguh Rasulullah saw ingin mengembalikan kalung ini kepada putrinya, namun sebelum itu terjadi beliau bermusyawarah dengan para sahabat, dan mereka mengerti keadaan beliau dan akan mengembalikan kalung Zainab dan membebaskan Abu al-Ash dengan syarat bahwa Zainab harus berhijrah ke Madinah. Abul Ash pulang ke rumahnya di Mekkah dan memberitahukan apa yang diinginkan Rasulullah, sungguh mereka diselimuti kesedihan, sama-sama tidak menginginkan perpisahan namun hal ini memang harus terjadi, Abu al-Ash tidak sanggup melepaskan Zainab dan mengantarkanya sampai Madinah sungguh perpisahan yang menyakitkan bagi keduanya, Zainab diantar oleh kerabat Abu al-Ash yaitu Kinanah bin Rabi ketika perjalanan menuju Madinah terjadi insiden yang menyebabkan kandungan Zainab keguguran. Setelah perpisahan antara Zainab dan Abu al-Ash, turun wahyu melarang pernikahan beda agama dan Rasulullah meminta Abu al-Ash untuk menceraikan putrinya. 

Sudah enam tahun perpisahan itu terjadi, banyak yang meminang Zainab namun ia selalu menolak karena ia masih mencintai Abu al-Ash. Pada waktu itu Abu al-Ash pulang berdagang dari negeri Syam menuju Mekkah dan melewati Madinah mereka dihadang oleh pasukan Rasulullah, dan semua harta benda ditawan dan digiring menuju Madinah namun Abu al-Ash berhasil melarikan diri. Abu al-Ash sembunyi-sembunyi menuju rumah Zainab yang terletak di Madinah, Zainab terkejut dengan kedatangan Abu al-Ash namun Zainab menerima dengan baik dan memuliakan Abu al-Ash, dan ia meminta perlindungan kepada Zainab dan ia pun menyatakan kesediaannya. 

Ketika Rasulullah dan para sahabat melaksanakan shalat subuh terdengarlah suara Zainab berseru “Wahai kaum muslimin, aku Zainab binti Rasulullah memberi perlindungan untuk Abu al-Ash maka lindungilah ia.” Kemudian Rasulullah menemui Zainab, Zainab pun berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu al-Ash adalah kerabatku anak dari pamanku, maka aku memberikan perlindungan untuknya.” Kemudian beliau pun berkata kepada Zainab, “Benar wahai putriku muliakanlah tempatnya dan jangan sampai ia berhubungan denganmu sesungguhnya engkau tidak halal baginya.” Kemudian para sahabat mengembalikan harta rampasan tadi kepada Abu al-Ash, dan ketika ingin pergi ia berkata kepada Zainab, “Sesungguhnya mereka (para sahabat) telah menawarkanku untuk masuk Islam namun kemudian aku menolak dan mengatakan sungguh buruk diriku memulai agama baruku dengan pengkhianatan,” hati Zainab bergetar mendengar penuturan Abu al-Ash. Di sini terdapat secercah cahaya bahwa Abu al-Ash akan masuk agama Islam. Sekembalinya Abu al-Ash ke Mekkah beliau mengembalikan harta yang mereka titipkan kepada Abu Ash dan tidak ada yang tertinggal sedikit pun kemudian Abu al-Ash mengatakan bahwa mulai detik ini ia masuk agama Islam. Ia kembali ke Madinah dan para sahabat menyambutnya dengan gembira, antara Zainab dan Abu al-Ash berkumpul kembali, mereka diliputi kebahagiaan bahkan lebih baik dari sebelumnya karena mereka kini dikumpulkan dengan agama tauhid. 

Genap satu tahun kabar duka didapat oleh Abul Ash, istri yang sangat dicintainya harus menghadap kepada sang pencipta. Sungguh kesedihan luar biasa, hanya dua buah hati mereka Ali dan Umamah sebagai pelipur lara, sehingga tak berselang lama Abu al-Ash pun menyusul kepergian istrinya. Sungguh kisah cinta sejati yang mendapat banyak cobaan dan ujian, namun mampu bersatu kembali dengan kisah cinta yang diridhai Allah swt. 

Referensi

Safiyurrahman, Al-Mubarakfuri. 1997. Sirah Nabawiyah. Diterjemahkan oleh: Kathur Surhadi. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

Abu, Muhammad Abdul Malik. 2017 As-Shahih An Nabawiyah li Ibnu Hisyam. Diterjemahkan oleh: Fadhli Bahri. Bekasi: Darul Falah.

Al-Basya, Abdurrahman Raf’at. 2005. Sosok Para Sahabat Nabi. Diterjemahkan: Abdulkhadir Mahdamy. Jakarta: Qithi.

Usmani, Ahmad Rofi. 2007. Rumah Cinta Rasulullah. Bandung: Mizan Media Utama.

Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad. Jakarta: Gema Insani.

Rochmat, Mukhlishon. “Kisah Rasulullah dengan Abu al- Ash“. https://islam.nu.or.id/post/read/101116/kisah-rosulullah-dan-menantunya-yang-non-muslim-bagian-i. diakses pada 23 November 2019 pukul 22.00 WIB.

Kontributor: Siti Mila Azka Maimunah, Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *