Amr bin Jam’uh Kaget, Melihat Tuhannya Mandi Lumpur Setiap Pagi

Berhala di Masa Nabi Ibrahim

Tren patung merupakan media beribadah kepada sang tuhan, telah banyak digandrungi, mulai kalangan muda hingga tua. Setan selalu launching metode terbaru agar manusia mau mengkultuskan, bahwa patung mampu memberikan kekayaan, hujan hingga pertolongan.

Sebagimana kecerdasan nalar Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika dihadapkan jajaran patung yang mana telah dihiasi dan disuguhi berbagai makanan didepannya (sesajen), mulai bentuk kecil hingga terbesar, bahkan ayahnya sendiri pun merupakan seorang pengrajin patung untuk disembah. Di saat penduduk Babilon sibuk menghadiri suatu perayaan, sehingga hanya tersisa Nabi Ibrahim yang kala itu beralasan sakit, dengan cepat, beliau menghancurkan hingga berkeping-keping seluruh patung dan menyisakan patung terbesar (QS. al-Anbiya : 58-59)  agar memberikan kesan bahwa patung besar tersebut cemburu jikalau ada tuhan kecil yang disembah selainnya.[1]

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَاماً آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar ‘Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’ ” [QS. al-An’am (6) : 76].

Mereka menjawab, bahwa alasan terkuat menyembah berhala ialah mengikuti tren para nenek moyangnya. Perjalanan spiritual panjang dialami oleh Sang Nabi, yakni ketika melihat bintang, bulan dan matahari, sehingga nalarnya menyadari bahwa, silih bergantinya siang dan malam pasti ada pengatur dan penciptanya[2], sehingga beliau berdoa:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“ Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang Menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. ” [QS. al-An’am (6) : 79].

Awal Mula Islam Masuk ke Kota Madinah

Selepas wafat paman Rasul, Abu Thalib, gempuran fisik kafir Quraisy terhadap Rasulullah saw. semakin menjadi-jadi. Tak hanya itu, Khadijahpun wafat di tahun yang sama (tahun 10 kenabian), peristiwa ini dikenal dengan tahun kesedihan. Dr. Musthafa as-Siba’i berpendapat hikmah dari tahun kesedihan, yakni agar terlepasnya pengharapan Rasulullah saw. kepada selain Allah, dan memperkuat tekad beliau dalam menyonsong dakwah Islam.[3]

Kebiasaan Rasulullah saw. setiap musim haji beliau tak lelah memperkenalkan diri kepada masyarakat dari luar Makkah, tak mau kalah atas seruan nabi, Abu Lahab selalu ada untuk memutar balikan fakta atas kebenaran yang beliau sampaikan, alhasil, dakwah beliau kepada berbagai kabilah seperti bani Abdullah, bani Kalb, bani Hanifah dan bani Amir bin Sha’sha’ah tidak berhasil.[4]

Ketika musim haji tahun ke-11 kenabian, beliau bertemu dengan suku Khazraj di al-Aqabah, yakni sebuah tempat melempar jumrah yang terletak antara Mina dan Makkah. Perkumpulan tersebut terdiri dari tujuh orang, Taimullah, As’ad bin Zararah, Auf bin Harits, Rafi’ bin Malik, Qutbah bin Amir, Uqbah bin Amir dan Jabir bin Abdullah.[5]

Ternyata setelah berbincang dan memperkenalkan diri, serta mengetahui bahwa beliau ialah seorang Rasul, suku Khazraj tersebut sangatlah bahagia, bahkan berlomba-lomba menyebarkan kabar tersebut di kampung halamannya, yakni Madinah.[6] Mengapa demikian? Sebelumnya suku Khazraj sering terjadi konflik bersama kaum Yahudi Madinah, orang-orang Yahudi selalu mengancam suku Khazraj :

“Seorang nabi akan segera diutus kepada kami, dan kini masanya telah tiba. Kami akan mengikutinya dan kami akan menghabisi kalian seperti dahulu bangsa ‘Ad dan Iram dibinasakan”

Sebab inilah 7 orang dari Yastrib sangatlah bahagia, bahwa seorang utusan Tuhan bukan lagi dari bangsa Yahudi, namun dari bangsa Arab, dan merekalah (Khazraj) yang menjumpainya terlebih dahulu. “Demi Allah kalian pasti tahu dialah sang nabi yang dijanjikan oleh kaum Yahudi. Maka jangan biarkan mereka (Yahudi) mendahului kalian untuk mengikutinya.” Orang-orang Khazraj itupun menyambut hangat seruan Rasulullah saw. untuk memeluk agama Islam “Sesungguhnya kami telah meninggalkan kaum kami dalam keadaan berseteru (Khazraj, Aus, Yahudi), semoga denganmu, Allah berkenan mempersatukan mereka semua.” ujar salah satu dari mereka.[7]

Baiat Aqabah Pertama

Pada musim haji berikutnya (tahun 12 kerasulan) datanglah kepada nabi dua belas orang yang akan berbaiat kepada nabi, satu di antara tujuh orang tahun sebelumnya, yang tidak ikut pada rombongan tahun ini adalah Jabir bin Abdullah.[8] Sehingga orang yang baru bertemu nabi, berjumlah tujuh orang. Baiat pertama ini dikenal dengan “Bai’at an-Nisa” karena isi baiat yang ditetapkan masih berisi perintah untuk melaksanakan kebaikan dan menjauhi apa yang telah dilarang.

Baiat Aqabah Kedua

Kesuksesan dakwah Mus’ab bin Umair beserta kaum Anshar di Yastrib (Madinah), dibuktikan pada tahun berikutnya, yakni tahun ke-13 kenabian, Mus’ab berangkat menuju Makkah untuk berjumpa dengan nabi bersama 70 orang laki-laki dan dua orang perempuan.[9]

Abdullah bin Ubay bin Salul selaku pemuka Yastrib, pemimpin rombongan haji ketika itu, terkena introgasi dari kafir Quraisy mengenai baiat, dia tidak tau menahu karena memang baiat ini dilakukan secara rahasia. Setelah berbaiat dan lolos dari pasukan pengintrogasi Kafir Quraisy, merekapun kembali ke kota Madinah.

Kisah Keislaman Amr bin Jam’uh[10]

Sepulangnya kaum Anshar ke Madinah, setelah baiat Aqabah ke-2, para pemuda Anshar masih menemukan penganut berhala Manat, merekapun berniat memberikan hikmah kepadanya, ia bernama Amr bin al-Jam’uh, rencana ini salah satunya didukung oleh anaknya sendiri, bernama Muadz bin Amr karena ia telah terlebih dahulu berbaiat kepada Nabi.

Pemuda Anshar pun melaksanakan rencananya dengan membuang secara sembunyi-sembunyi berhala milik Amr bin al-Jam’uh ke dalam got Bani Salimah, di mana got tersebut dipenuhi dengan kotoran manusia. Pagi hari Amr berkeliling mencari tuhannya yang hilang (berhala), lalu menemukannya di got dalam keadaan nunclep, ia pun lantas memandikan tuhannya yang berlumuran kotoran manusia, lalu memberikan wewangian dan hiasan terhadapnya.

Tak ayal peristiwa ini berulang kali dilakukan para pemuda Anshar secara rutin, hingga Amr geram “Demi Allah, jika aku temukan orangnya, akan ku hinakan orang tersebut”. Pada suatu saat ia jengkel karena malah ia repot dan lelah mengurusi tuhannya, padahal ia berharap bantuan darinya. Ia pun menggantungkan sebilah pedang dileher tuhannya itu, lalu berkata: “Demi Allah, saya tidak tahu siapa yang melakukan ini kepadamu, jika engkau memiliki kekuatan, jagalah dirimu dengan sebilah pedang yang aku berikan kepadamu”, Amr pun lekas bergegas untuk tidur.

Ketika Amr bangun tidur ia terkaget-kaget melihat tuhannya menghilang lagi karena ulah pemuda Anshar yang masih melakukan rutinitasnya, malah, sebilah pedang diganti dengan bangkai anjing yang digantungkan dileher berhala. Amr hanya memandangi keadaan tuhannya yang begitu nelangsa di dalam got, dengan sebilah pedang yang hilang entah ke mana.

Amr pun sadar hakikat sebenarnya, Muadz melihat ayahnya yang murung dan kebingungan, mengajak ayahnya berdiskusi dengan orang-orang yang telah masuk Islam dari kalangannya. Allah Swt. memberikan hidayah kepadanya dengan hikmah, melalui para pemuda tersebut. Iapun lantas masuk Islam dan terus membaik keislamannya, Amr sangat bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla yang telah menyelamatkannya dari kebutaan dan kesesatan. Lalu mencurahkan isi hatinya dengan menulis sebuah syair:

                Demi Allah jika engkau adalah tuhan

                maka engkau dan bangkai anjing tidak akan berada ditengah got

                Segala puji bagi Allah yang maha tinggi yang kaya akan karunia

                Maha pemberi rezeki dan membuat manusia beragama

Dia lah yang telah menyelamatkan ku

Setelah sebelumnya aku berada dalam kegelapan kuburan yang tergadaikan

Dengan perantara Ahmad pemberi petunjuk, seorang nabi dan orang yang bisa dipercaya.

[Kisah ini dikutip dari Sirah Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam al-Muafiri]


[1] Ibnu Katsir, Terj. Umar Mujtahid, Kisah Para Nabi, (Jakarta: Umul Qura, 2013), hlm. 230.

[2] Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hlm. 225.

[3] Musthafa al-Siba’i, Sirah Nabawiyah : Durus Wa ‘Ibar, (Kairo : Daaru al-Salam, 2018) cet. 14, hlm. 31.

[4] Abdul Malik, Terj. Fadhil Bahri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (Jakarta: Darul Falah, 2018), jilid 1, cet. 17, hlm. 384-385.

[5] Abdul Malik, Terj. Fadhil Bahri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, hlm. 390.

[6] Setibanya di Madinah mereka terus bercerita tentang Rasulullah kepada kaumnya dan mengajak mereka untuk masuk Islam. Hingga Islam tersebar luas di tempat mereka dan tidak ada satu rumahpun dari kalangan Anshar melainkan di dalamnya terdapat pembahasan mengenai Rasulullah saw. (Abdul Malik, Terj. Fadhil Bahri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, hlm. 391).

[7] Muhammad Said, Fikhus Sirah An-Nabawiyah, (Damaskus: Daaru al-Fikr, 2015) cet. 24, hlm. 116.

[8] Safiyurrahman al-Mubarakfuri, Al-Rahiq Al-Makhtum, (Riyadh: Montada al-Thaqofa, 2013), cet. 21, hlm. 133

[9] Musthafa al-Siba’i, Sirah Nabawiyah : Durus Wa ‘Ibar, hlm. 32.

[10] Abdul Malik, Terj. Fadhil Bahri, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Bab 87, hlm. 409.

Kontributor: Ali Rizky, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *