Kiai Abdul Djalal di Mata Ulama Indonesia

Jumat malam (02/10), para Masyayikh, Mudir, Pejabat Kementerian Agama, Dosen, serta mahasantri Ma’had Aly se-Indonesia melaksanakan Pembacaan Yasin dan Tahlil untuk Alm. KH. Abdul Jalal secara virtual. Beliau, Ketua Asosiasi Ma’had Aly se-Indonesia (AMALI), berpulang Kamis, 2 Oktober 2020 lalu. Setelah pembacaan Yasin, tahlil, dan doa, jajaran masyayikh menyampaikan kenangan tentang beliau beserta jasa-jasanya yang amat besar terhadap Ma’had Aly di Indonesia.

Kiai Nur Hannan dari Tebuireng selaku pemandu acara mengawali cerita tentang kiprah panjang beliau dalam memperjuangkan perkembangan Ma’had Aly. Lanjutnya, beberapa hari sebelum wafat beliau masih sempat hadir mewakili pengurus AMALI bersama Mudir Ma’had Aly Jakarta di kantor Kementrian Agama Pusat dalam acara serah terima SK izin oprasional pendirian Ma’had Aly pada pertengahan bulan September yang lalu. Ini menunjukkan perhatian dan jasa beliau sangat besar dari tahun 2005-an hingga sekarang.

Nadirsyah Hosen, salah satu sahabat beliau yang hadir menceritakan dirinya dan beliau tergabung dalam sebuah grup Whatsapp dengan Yeni Wahid, Agus Maftuh Abegebriel Dubes RI untuk Saudi Arabia, dan para intelek lainnya. Gus Nadir menjelaskan dengan mantap, setiap kali ada diskusi di grup tersebut, beliau itu selalu memikirkan AMALI.

Gus Nadir juga menceritakan diskusinya bersama Almarhum saat Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, 2019 lalu. Bersama dengan jajaran Kementerian Agama kala itu, beliau mengusulkan agar Ma’had Aly ini bekerja sama dengan universitas-universitas di luar negeri.

“Orang alim banyak, tetapi orang yang alim dan aktifis tidak banyak.  Atau aktifis tapi tidak alim. Beliau ini dua-duanya,” ujar Gus Nadir mantap. Lanjutnya, “Semalam setelah mendengar berita beliau meninggal, tadi malam saya langsung bermimpi bertemu beliau dalam mimpi saya, saya sangat sedih dan merasa kehilangan.”

Ahmad Zayadi, Direktur PD Pontren Kementerian Agama RI 2019 juga turut hadir menceritakan kisah beliau. “Kiai Djalal sudah meninggalkan legacy yang sangat luar biasa, meninggalkan semangat yang istiqamah konsisten untuk tetap mengawal Ma’had Aly sebagai instrumen kelembagaan yang sangat strategis dalam rangka kaderisasi ulama,” tuturnya.

Selanjutnya Kepala Subdit Pendidikan Pesantren Kemenag, Basnang Said, ia bercerita, “Sepanjang kita menyusun turunan undang-undang No. 18 tentang pesantren itu yang banyak disebutkan adalah nama Kiai Djalal.”

Masih Basnang Said, dari tiga bulan lalu hingga sekarang PMA tentang Ma’had Aly tidak pernah dirubah sebagaimana amanah beliau yang telah memberikan banyak reasoning (alasan sendiri) kenapa Ma’had Aly harus punya PMA sendiri.

“Orang yang sangat memperjuangkan tidak hanya Ma’had Aly, tapi juga pesantren se-Indonesia,” tandasnya.

Atas pembacaan Yasin, tahlil, dan doa bersama ini, KH. Muhammad Ulil Abshor, pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 yang masih keponakan beliau, atas nama keluarga menyampaikan terima kasih dan mohon dibukakan pintu maaf seluas-luasnya.

“Rasanya nilai-nilai perjuangan beliau masih sangat terasa hangat di dada kami. Dan saya berharap ke depannya Ma’had Aly ini  sesuai dengan apa yang beliau harapkan,” ucap Kiai Ulil Abshor dengan mata berkaca-kaca.

Mewakili keluarga Ma’had Aly Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Kiai Imam Nakha’i turut menyampaikan, “Sesungguhnya Pak Djalal ini tipe yang sangat gigih sekali dan mampu menjembatani perbedaan-perbedaan tentang formalisasi Ma’had Aly.” Lanjutnya, “Benar-benar bisa dibuktikan hari ini bahwa kehadiran Ma’had Aly membawa manfaat yang sangat besar terutama bagi santri-santri di hampir di seluruh Indonesia.”

Majelis kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kepala Seksi Kurikulum Subdirektorat Pendidikan Diniyah dan Ma’had Aly Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ahmad Rusdi. Pembacaan Yasin dan Tahlil ini akan kembali digelar pada peringatan 7 hari beliau  berpulang. Sebagai info, sampai sekarang sudah 60 Ma’had Aly yang mendapat SK dari kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag. Pendiriannya sejak awal untuk menjadikan kader-kader ulama di masa yang akan datang. Semoga jajaran pengurus AMALI, para mudir beserta para mahasantri dapat melanjutkan perjuangan beliau dalam mengembangkan Ma’had Aly di Indonesia. (Lail)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *