Al Mahdi: Kiprah dan Karakter Kepemimpinan dalam Kekuasaan Daulah Bani Abbasiyah

Ma’had Aly – Abu Abdillah Muhammad Al Mahdi bin Al Manshur atau yang masyhur dengan nama Al Mahdi merupakan salah satu khalifah yang pernah menguasai Dinasti Abbasiyah. Muhammad Al Mahdi dilahirkan di Idzaj (yang masuk wilayah Ahwaz) pada tahun 126 H dari ayahnya, Al Manshur dan ibu yang bernama Arwa binti Al Manshur Al Himyariyah, atau yang masyhur dikenal dengan nama Ummu Musa. Ketika Bani Abbasiyah berhasil memegang kuasa kekhalifahan, Al Mahdi masih berusia enam tahun. Dan saat ayahnya diangkat menjadi seorang khalifah, Al Mahdi masih berusia sepuluh tahun.

Menginjak usia 15 tahun, ayahnya memberikan kepercayaan untuk memimpin pasukan menuju Khurasan dan memerintahkannya untuk singgah di Rayy, tepatnya ketika terjadi pemberontakan Abdul Jabbar bin Abdurrahman, seorang Gubernur Khurasan yang diangkat Abu Ja’far Al Manshur. Setelah berhasil menangani masalah tersebut, ia menyerang Thabaristan atas perintah dari ayahnya. Kemudian ia diangkat ayahnya sebagai gubernur di Thabaristan dan wilayah-wilayah yang berada di sekitarnya. Pada tahun 144 H, ia kembali dari Khurasan dan menemui ayahnya di Qurmasin kemudian mereka bergerak bersama ke Al Jazirah untuk mengawasi benteng-benteng yang dikuasai mereka.

Pada tahun 144 H, Al Mahdi menikahi Rithah binti Abu Abbas Ash-Shaffah. Pada tahun 147 H, ia diangkat secara resmi oleh ayahnya sebagai putra mahkota dan lebih mengutamakannya daripada Isa bin Musa. Setelah itu, ia kembali ke Rayy dan menetap di sana hingga tahun 151 H. Ia meminta kepada ayahnya untuk dibangunkan Ar-Rushafah baginya dan pasukannya, yang terletak di sisi timur kota Baghdad dan mengangkatnya sebagai Amirul Haj pada tahun 153 H. Pada tahun 155 H, ia kembali dibangunkan kota Ar Rafiqah, dengan meniru gaya arsitektur kota Baghdad.

Pada tanggal 6 Dzulhijjah 158 H/7 Oktober 775 M, Khalifah Abu Ja’far Al Manshur wafat. Kabar pengangkatan Al Mahdi sebagai khalifah ini ia terima setelah ajudan dan para komandan yang menyertai Al Manshur dalam perjalanan ibadah hajinya dan mengirimkan delegasi ke Baghdad untuk menginformasikan tentang wafatnya Al Manshur kepada Al Mahdi. Mereka telah mengambil baiat bagi Al Mahdi dengan membawa serta tongkat Rasulullah, gaun yang diwariskan para khalifah, dan stempel kekhalifahan. Delegasi itu datang pada hari Selasa pada pertengahan bulan Dzulhijjah. Setelah kabar pembaiatan Al Mahdi sebagai khalifah menyebar, pada hari itu pula penduduk Baghdad bersepakat untuk membaiatnya.

Semasa kepemimpinannya, Al Mahdi lebih mendamaikan warganya dibandingkan pada masa pemerintahan Al Manshur, yang dikatakan penuh dengan kekuasaan yang otoriter dari seorang Al Manshur. Hal ini dikarenakan Al Manshur dengan tegas menerapkan sistem hukuman kepada seseorang yang dicurigai sebagai lawan atau rival yang dapat menyaingi kekuasaannya. Kondisi itu mengakibatkan banyak pihak yang secara realitanya tidak bersalah harus mengalami siksaan dan intimidasi. Hal ini berbeda dengan saat ketika Al Mahdi berkuasa di mana Bani Abbasiyah sudah menunjukkan kekuatannya, meski banyak kelompok lain yang mencoba menyerang kekhalifahan Abbasiyah.

Pada permulaan pemerintahannya, ia membebaskan tahanan politik yang dipenjarakan oleh Al Manshur, kecuali tahanan kriminalitas atau sejenisnya. Pada tahun 159 H, Al Mahdi membaiat Musa Al Hadi sebagai putra mahkota, setelahnya kemudian adalah Harun dan kedua anaknya Harun. Adapun dalam invasi militernya, Al Mahdi mengirimkan pasukan sebanyak 9.200 orang dari barak-barak militer di kota Bashrah, Syam, Al Aswari dan As Sababihah untuk menyerang  India. Pada tahun 160 H, mereka berhasil mendarat, masuk ke wilayah India dan menetap di sana selama dua hari dengan menyerang menggunakan manjaniq (pelontar bola api) untuk mengusir para penduduk. Mereka berhasil menaklukkan wilayah Barbad (India). Di tahun yang sama, Al Mahdi menunaikan ibadah haji sekaligus merenovasi bagian atap Ka’bah dan Masjidil Haram dengan memperbanyak jumlah pintu yang mengelilinginya. Namun, ia dikecam karena telah menghapus nama Al Walid bin Abdul Malik dan menuliskan namanya di dinding Masjid Nabawi. Pada tahun 161 H, ia membangun akses jalan di Mekkah, membangun istana, mata air, pabrik-pabrik dan fasilitas umum lainnya. Pada tahun 167 H, ia memerintahkan untuk memperluas area ruangan di Masjidil Haram.

Al Mahdi juga semakin gencar dalam melakukan sabotase kepada kaum Zindiq dan Atheis berhasil membinasakan mereka dalam jumlah yang besar. Hal ini dilakukan karena mereka dianggap melecehkan agama. Bahkan, Al Mahdi membuat kebijakan untuk menyusun beberapa kitab debat (Kutub Jadal) untuk menyerang kaum Zindiq dan Atheis agar pemikiran mereka tidak merusak akidah umat Islam.

Salah satu tragedi sabotase kaum Zindiq ialah kisah Al Muqni’ Al Khurasani yang mempopulerkan paham reinkarnasi sehingga banyak menyesatkan masyarakat sampai ke daerah Transoxania. Kemudian Al Mahdi mengirimkan Muadz bin Muslim dan Sa’id Al Habsyi untuk memimpin pasukan yang dikerahkan untuk membunuhnya. Mereka bergabung dan memblokade Al Muqni’ di benteng Kabsy. Al Muqni’ akhirnya bunuh diri bersama istri dan anaknya dengan meminum racun setelah blokade yang semakin ketat dan tak memungkinkan bagi mereka untuk melarikan diri. Pasukan Al Mahdi akhirnya dapat memasuki bentengnya dan memenggal kepala Al Muqni’.

Pada tahun 163 H, terjadi konflik peperangan antara Romawi melawan Abbasiyah baik melalui angkatan darat atau laut telah menjadikan rivalitas antara Charlemagne, penguasa Romawi dengan Al Mahdi semakin memanas. Al Mahdi kemudian menyerahkan penanganan masalah di Ash Sha’ifah kepada putranya, Harun Ar Rasyid. Sedangkan ia bersama pasukannya bergerak menuju Al Baradan.

Selama konflik melawan Romawi ini, pasukan Abbasiyah berhasil menaklukkan beberapa daerah dan beberapa benteng milik Romawi. Harun Ar Rasyid ini merupakan sosok yang cukup berjasa dalam perang melawan Romawi ini. Ia banyak bergerak dan menaklukkan wilayah Romawi, seperti Ash Sha’ifah, Teluk Al Bahr Konstantin, Pantai Marmarah. Ia juga sosok penting dalam penaklukkan benteng Samala setelah melakukan blokade selama 38 hari. Pada tahun 166 H/782 M, ia berhasil melakukan perjanjian damai dengan Kaisar Agustine yang bersedia untuk membayar jizyah.

Pada tahun 165 H, Al Mahdi mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Romawi selama tiga tahun dan penyerahan tawanan. Namun, pada bulan Ramadhan 168 H di mana saat itu belum memasuki masa berakhirnya gencatan senjata, kekaisaran Romawi berkhianat. Al Mahdi kemudian mengirimkan pasukan yang dipimpin Ali bin Sulaiman bin Ali dan Yazid bin Bad Al Baththal dan berhasil memaksa kekaisaran Romawi untuk melaksanakan perjanjian gencatan senjata serta memperoleh kemenangan dan mendapatkan banyak ghanimah. Setahun berselang, Al Mahdi pindah ke istana barunya yang dinamakan ‘Isabadz. Dia tinggal di sana dan membangun kantor pos yang menghubungkan wilayahnya dengan Madinah, Hadhramaut, Yaman dan Makkah.

Selama menjadi khalifah, ia adalah sosok pemimpin adil yang dicintai oleh rakyatnya, dermawan, berkarakter yang baik dalam berinteraksi sosial dengan masyarakat, pendengar keluhan rakyat, dan senang menanggapi pengaduan masalah mereka. Bahkan, ia membangun rumah yang memiliki jendela dan terbuat dari besi di pinggir jalan agar dapat mendengarkan permasalahan mereka.

Nafthawaih berkata, “Saat kas negara berada di tangan Al Mahdi, ia mengembalikan hak-hak yang dirampas dan mengeluarkan sebagian besar simpanannya serta membagikannya kepada yang berhak. Dia berlaku baik kepada kerabat dan mantan budaknya.”

Al Mahdi dikenal sosok yang terpuji kepribadiannya. Dia merupakan khalifah yang tidak meminum anggur, meskipun teman berbincangnya meminum anggur dan suka mendengarkan musik. Selain itu, ia juga dikenal dengan sosok yang pemalu dan pemaaf. Apabila salah seorang yang memusuhinya berada dalam genggamannya, maka ia dengan mudahnya akan memaafkannya.

Kematian menjemputnya di sebuah perkampungan yang bernama Ar Raudz pada malam Kamis di delapan hari terakhir bulan Muharram tahun 169 H. Mengenai kabar kematiannya dikisahkan bahwa Al Mahdi ingin bepergian ke Jurjan. Ketika sampai di kota Masbadzan (termasuk wilayah Irak), ia sedang menunggang kendaraan di belakang binatang buruan, ternyata binatang buruan itu memasuki reruntuhan bangunan. Sementara kuda yang berada di belakangnya menyeruduk punggungnya hingga akhirnya ia meninggal seketika. Ada pula yang mengatakan bahwa Al Mahdi itu wafat karena diracun. Jenazahnya kemudian dishalatkan oleh anaknya, Harun Ar Rasyid. Karena ketika itu, dialah yang ikut mendampinginya. Dengan demikian, ia menjabat sebagai khalifah Abbasiyah selama sepuluh tahun lebih satu bulan setengah.

Referensi

As Suyuthi. 2000. Tarikh Khulafa. Terj. Rahman, Samson. Sunt. Sulaiman, Iman. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

Muhammad Al Khudhari. 2018. Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah. Terj. Irham Masturi dan M. Abidun Zuhri. Sunt. Artawijaya. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

Ahmad Al Usairy. 2016. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Terj. Rahman, Samson. Sunt. Kurniawan, Harlis. Jakarta: Akbar Media.

Abdul Syukur Al Azizi. 2017. Sejarah Terlengkap Peradaban Islam. Yogyakarta: Penerbit Noktah

Tamim Ansary. 2018. Dari Puncak Baghdad, Sejarah Dunia Versi Islam (Destiny Disrupted: A History Of The World Through Islamic Eyes). Terj. Liputo, Yuliani. Sunt. Qamaruddin, S.F. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Kontributor: Ma’mun Fuadi, Semester VII 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *