Al-Fatih

  1. Konstantinopel

            Pada abad 14  M, Konstantinopel merupakan pusat peradaban Kristen kedua setelah Roma.  Latin Khatolik berpusat di Roma, dan Greek Ortodoks di Konstatinopel.

            Konstantinopel adalah suatu kota paling strategis di dunia, posisi geografisnya menciptakan kesuksesan dalam jalur perdagangan antara Asia dan Eropa.  Demikian strategisnya, kota ini sampai-sampai dikatakan, “Andaikata dunia berbentuk satu kerajaan, maka Konstantinopel akan menjadi kota paling cocok untuk menjadi Ibukotanya”.

            Secara strategis, Konstantinopel juga kota yang indah dan berperadaban tinggi. Wilayah utamanya dikelilingi air. Konstantinopel terletak di pertemuan dua benua yang paling banyak menyumbangkan peradaban besar sepanjang sejarah, yaitu benua Asia dan Eropa.

            Konstantinopel terbagi dalam tiga bagian utama, dua di Eropa dan satu di Asia. Dua yang di Eropa dipisahkan oleh Golden Horn. Di sebelah selatan Golden Horn adalah Stamboul (Byzantium lama) dan yang di utaranya adalah Galata dan Pera. Bagian yang berada di Asia adalah Scutari (Uskudar) dan Chalcedon.

  1. Turki Utsmani

            Setelah berlalunya masa-masa kejayaan Dinasti Abbasiyah (tn. 778 M), negeri kaum muslimin terpecah-pecah  dalam bentuk kesultanan. Salah satunya ialah Turki Utsmani.  Turki Utsmani adalah kaum Bani Saljuk (1055-1194 M) yang mendeklarasikan kedaulatan mereka dari kepemerintahan Abbasiyah di penghujung abad ke-13 M dibawah kepemimpinan Utsman (1258-1326 M).

            Berdirinya Daulat Turki Utsmani (Osmani Devlet) adalah sebagai “Ghazi State” yaitu negara yang didirikan untuk menegakkan jihad menghadapi negeri-negeri kafir. Pusat kekuasaan Utsman yang pertama terletak di Eskisehir (Old City), kemudian dipindah di Yenisehir (New City) pada tahun 1299 M. Awal abad ke-16, sasaran utama perluasan Turki Utsmani adalah wilayah Eropa sebelah barat.

            Sultan yang kedua adalah Orhan (1326-1362 M). Ia berhasil menguasai kota Bursa dan kota di belahan Eropa pertama kali; Edirne, dan menjadikan Edirne Ibukota Turki Utsmani kedua.

            Sultan ketiga, Murad I (1362-1389 M) berhasil menaklukan Bulgaria dan Serbia pada tahun 1389 M setelah pertempuran Kosovo. Ia terbunuh setelah pertempuran ini. Di masa kekuasaannya, ia membentuk suatu pasukan perang khusus bernama Yunisari (New Troops).

            Sultan selanjutnya adalah Bayazid I (1389-1402 M). Ia meneruskan perjuangan Murad I dalam memperluas wilayah hingga ke Eropa dan Anatolia. Setelah kemunduran Sultan Bayazid, Turki Utsmani terpecah belah. Beberapa daerah kekuasaannya memisahkan diri dari kekuasaan Turki Utsmani. Turki Utsmani berhasil dirajut kembali oleh putra Bayazid I yang bernama Muhammad I (1413-1421 M).

            Kekuasaan selanjutnya dipegang Sultan Murad II (1421-1451 M). Ia dikenal sebagai figur yang suka menepati janji dan cinta damai. Murad dua sempat mengundurkan diri  dari singgasananya sebanyak dua kali. Saat pengundurannya, Kerajaan diserahkan kepada Muhammad II yang saat itu masih seumur jagung, kurang lebih berumur 12 tahun. Kepemimpinannya di bawah bimbingan Halil Pasha.

  1. Muhammad Al-Fatih dan Penaklukan Konstantinopel

             Muhammad II dilahirkan pada tanggal 20 April 1429 M, bertepatan dengan 26 Rajab 833 H. Ia putra ketiga Murad dengan ibunya Turki Hatun bin Abdullah. Muhammad tidak pernah dipersiapkan akan menjadi putera mahkota. Muhammad baru ditetapkan sebagai putera mahkota setelah kematian kedua kakak lelakinya yang berlainan ibu, Ahmad dan Ali, dalam usia yang masih muda. Saat berusia dua tahun dia dikirim ke Amasya bersama Ali. Umur enam tahun ditetapkan sebagai gubernur di Amasya. Sementara Ali menjadi Gubernur di Magnesia. Beberapa tahun setelah itu, Ali yang merupakan putera mahkota sekaligus anak kesayangan Murad, juga meninggal dunia. Murad segera memangil Muhammad dari Magnesia ke Edirne untuk dididik secara lebih intensif sebagai calon penggantinya.

            Muhammad kecil berguru kepada syaikh Ahmad bin Ismai Al-Kurani seorang ulama kurdi dan Syaikh Aaq Syamsuddin . Ketegasan Al-Kurani tak urung membuat Muhammad belajar dengan serius dan berwawasan yang cemerlang. Ia juga menguasai dengan baik bahasa Turki, Arab, Persia, Yunani, Latin, dan Hebrew.

            Muhammad Al-Fatih memimpin Turki Utsmani saat berumur 12 tahun, tepat pengunduran ayahnya yang pertama kali. Karna usianya yang masih begitu muda, kepemerintahan tidak dapak dikendalikannya dengan baik, dan menjadikan Murad kembali memerintah Turki Utsmani. Kegagalannya bukan malah menjatuhkan perasaan Muhammad, melainkan ia mampu mengamati perkembangan pemerintahan dengan kacamata pengalaman, tidak hanya dengan kacamata pengetahuan.

            Saat mendengar kabar kematian ayahnya, Muhammad segera berangkat ke Eropa sembari berkata kepada sahabatnya “Biarlah mengikuti saya bagi siapa-siapa yang mencintai saya.” Muhammad kembali memerintah saat berusia sekitar 19 atau 20 tahun. Pada awal kepemimpinannya, Turki Utsmani banyak mengalami masalah, seperti pemberontakan Ibrahim Bey (pemimpin Karaman), dan juga pemerasan yang dilakukan Byzantium yang pada masa itu tidak mempunyai kekuasaan di luar Konstantinopel.

            Muhammad II sebetulnya telah memiliki visi untuk menaklukan Konstantinopel sejak akhir masa pemerintahannya yang pertama pada tahun 1446 M. Sejak kecil, ia telah mempelajari Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw. Di antara hadits yang sering ia ulang-ulang adalah hadits riwayat Ahmad berikut:

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandannya adalah sebaik-baik pasukan.”

            Muhammad Al-Fatih memulai jihadnya melawan orang-orangg kafir pada tanggal 23 Maret dan tiba di Konstantinopel pada tanggal 2 April 1453 M dengan membawa 150 ribu pasukan, 400 buah kapal  dan beberapa meriam kecil-besar. Akhirnya hari bersejarah itu tiba, Selasa tanggal 29 Mei 1453 M, serangan besar-besaran dimulai hingga Kontantinopel tak mampu berkutik lagi, dan jatuh dalam kekuasaan Islam. Perjuangan Al-Fatih saat bertempur melawan Constantie XI (Raja Konstantinopel) tidak berjalan mulus-mulus saja, banyak halang rintangan, bahkan ditengah-tengah peperangan sempat membuat Al-Fatih terpuruk karena tidak mampu menjebol benteng Konstantinopel. Namun berkat pertolongan Allah swt serta dukungan sepiritual gurunya Aaq Syamsuddin, Al-Fatih kembali bersemangat mewujudkan apa yang telah menjadi takdir Islam. Konstantinopel jatuh ke tangan Islam.

  1. Setelah Penaklukan

            Tak lama setelah penaklukan Konstantinopel, Muhammad membuatkan makam yang indah untuk Abu Ayyub (sahabat Nabi yang gugur saat berjuang menaklukan Konstantinopel) serta membangunkan masjid di samping makamnya. Kemudian ia mengirimkan surat kabar kemenangannya kepada beberapa pimpinan dunia Islam.

            Pada pertengahan April 1454 M, Muhammad Al-Fatih kembali bergerak untuk menguasai beberapa wilayah Eropa, di antaranya adalah Serbia dan Belgrade. Tidak hanya itu Al-Fatih juga menerobos maju hingga ke Yunani pada tahun 1460 m, Trebizond di tahun 1461 M, dan Italia.

            Dalam memimpin pertempuran, al-Fatih terkenal sangat menjaga kerahasiaan militer. Anggota pasukannya, bahkan para panglimanya sendiri, seringkali tidak mengetahui ke mana pasukan Turki akan diarahkan. Suatu ketika, salah seorang jenderalnya bertanya padanya, wilayah mana yang akan menjadi sasaran militer berikutnya. Al-Fatih menjawab; “Kalau sehelai saja rambut di kepala saya mengetahui rencana saya, maka saya akan mencambutnya  dan melemparkannya ke dalam api.”

            Di penghujung tahun 1470-an, ia sudah mulai terkena penyakit radang sendi yang serius, sehingga membuatnya sangat tidak nyaman dalam mengendarai kuda. Walaupun demikian, pada tahun 1481 ia masih memimpin pasukannya ke Asia. Namun rencana serangan ini tidak diteruskan  karena sakit mendadak yang diderita sultan. Pada tanggal 4 Mei 1481 M, ia meninggal pada usia ke-52 tahun. Kewafatannya adalah kabar kebahagiaan dan ketenangan bagi orang-orang Eropa. Entah apa yang akan tejadi  seandainya Al-Fatih hidup beberapa tahun lagi, kemungkinan Roma akan jatuh ke tangan Islam. Bagi Muslim, wafatnya sultan Al-Fatih merupakan sebuah kehilangan besar. Kehilangan seorang kesatria yang mampu berjihad tanpa kenal lelah.

Judul Buku                  :  Al-Fatih

Pengarang                   : Alwi Alatas

Jumlah Halaman          : 192

Penerbit                       : Zikrul Hakim

Diresume oleh, Rizqiyatul Hasanah semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *