Abah Noer: Kalau Bukan Saya, Siapa Lagi yang Muasain Santri-Santri

Ma’had Aly – Masih teringat kuat dalam ingatan saya, Sabtu tepatnya satu hari sebelum Mastama (Masa Ta’aruf Mahasantri-OSPEK) di Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta, saya pamit meminta maaf dan keridhaan, serta untuk memohon doa kepada Abah Noer untuk melanjutkan belajar ke Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah, dengan harapan di Ma’had Aly nanti selalu diberi kemudahan dan kelancaran. Sehingga kelak dapat meniru langkah perjuangan beliau.

Setelah selesai sowan, kemudian Abah berpesan, “Wi, ojo pernah bosen-bosen yo lekmu belajar, pokoke terus belajar, belajar, dan belajar. Mergo ilmu iku ra ono entek e, Wi.” (Wi, jangan pernah merasa bosan ya, ketika kamu belajar, yang terpenting terus belajar, belajar dan belajar. Karena ilmu itu tidak ada habisnya.)

Satu tahun adalah waktu yang sangat singkat jika menjadi khadim kiai. Bagimana tidak, ilmu yang begitu banyak dalam diri beliau tidak mungkin terserap habis dalam waktu seesingkat itu. Namun, banyak hal yang luar biasa yang didapat kala nderek kiai yang tertanam kuat hingga saat ini. Salah satunya ialah rasa cinta kepada Rasulullah saw. Beliau menceritakan mimpinya kala bertemu dengan Rasulullah, sambil sesekali mengusap air mata dan tersedu-sedu beliau menceritakan keindahan saat bertemu dengan baginda Nabi. Lalu beliau mengatakan tidak ada hal terindah dan ternikmat di dunia ini selain bisa bertemu dengan Rasulullah, meskipun itu hanya dalam mimpi.

Kemudian beliau berpesan kepada saya, “Amalkan terus sholawat Jibril, insya Allah kamu bisa merasakan seperti apa yang saya rasakan.” Begitulah cara beliau menanamkan rasa cinta kepada baginda Nabi Muhammad saw. yang terpatri kuat dalam hati hingga akhir hayatnya.

صلى الله على محمد

Ketika nderek Abah, sering saya jumpai banyak sekali yang bertanya kepada beliau perihal puasa Daud yang selalu istiqomah beliau lakukan meskipun dalam keadaan sakit. Jawaban beliau sangat sederhana, “Kalau bukan saya yang puasa, siapa lagi yang muasain santri-santri saya.” Allahu Akbar, begitu mulianya beliau, di mana pun yang diingat selalu santri-santrinya, berjamaah dengan santri-santrinya. Selamat jalan Abah (Muhammad Nachrowi)

One Reply to “Abah Noer: Kalau Bukan Saya, Siapa Lagi yang Muasain Santri-Santri”

  1. abah orang hebat
    sampai akhir hayatnya selalu puasa daud
    maafkan saya yang gagal menjaga
    kesehatan abah kyai nur.
    @mas wahyu 🙏🙏🙏🙏🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *