Abah Memed, Juru Kunci Sumur Tujuh Gunung Karang Pandeglang Banten

Ma’had Aly – Nama lengkapnya Kiai Muhammad Memed biasa dipanggil Abah Memed. Lahir pada tanggal 18 Juni 1953 di Desa Pasir Angin, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang-Banten. Beliau merupakan Guru pertama yang mengajarkan tentang ilmu Al-Quran di Kampung Parage, dan terkenal sebagai ulama yang lebih mengutamakan ngaji dibandingkan dengan sekolah.

Sementara itu, nama ayah beliau adalah Kiai Muhammad dan ibunya ialah Ibu Nyai Aisyah. Terlahir dari keluarga yang sederhana, memaksa beliau untuk terus berjuang di jalan Allah SWT. Dengan meneruskan perjuangan dari kedua orang tuanya, beliau fokus memperdalam pendidikan di bidang ilmu agama terutama di dalam ilmu Al-Qur’an.

Abah (begitu penulis biasa menyapanya), merupakan putra pertama dari empat bersaudara, sejak beliau berumur 10 tahun telah banyak mendapatkan wejangan serta pengajaran tentang ilmu agama langsung dari ayah dan ibu beliau. Dengan motivasi yang besar beliau dapatkan dari keluarga beliau serta minat yang besar dalam menuntut ilmu yang beliau miliki. Dari situlah muncul Abah Memed muda yang tumbuh menjadi seorang pemuda yang pandai dan cerdas dalam berfikir, bahkan beliau pernah mendapatkan sebuah kesempatan yang diberikan sang ayah untuk membantu mengajar di Madrasah Ibtidaiyyah Pandeglang karena kepandaian beliau.

Ketika usianya menginjak 14 tahun, beliau mondok di berbagai pesantren lain. Hal ini dikarenakan beliau belum cukup dalam menimba ilmu yang diterima sebelumnya. Tidak hanya satu pondok pesantren saja yang beliau singgahi. Di antaranya Pondok Pesantren yang terkenal di daerah Pandeglang, Banten, yaitu Pondok Pesantren Roudotul Ulum Cidahu, Cadasari, Pandeglang-Banten (Alm. Abuya Dimyati), kemudian diteruskan oleh anaknya yaitu Abuya Muhtadi. Abah Memed Mondok di pesantren Roudotul Ulum selama 10 tahun, dari pondok pertamanya beliau fokus untuk memperdalam ilmu Al-Qur’an, ilmu tafsir Al-Qur’an, bahkan beliau fokus dalam menghafalkan Al-Qur’an sebanyak 30 Juz, selain itu beliau banyak belajar ngaji kitab-kitab ulama dari tuan guru Abah Dimyati, merupakan sanad guru pertama beliau dalam belajar ilmu Al-Qur’an.

Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Hidayah Cisantri, Cipeucang Pandeglang (Abuya Bustomi) disinilah beliau belajar lebih dalam lagi tentang kitab-kitab kuning karangan ulama terdahulu. Beliau mondok di pesantren ini selama 3 tahun lamanya. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan selama 3 tahun lagi di pondok pesantren Assalafiyah Al-Futuhiyyah Banjar, Pahingeur Banjar Irigasi Lebak Gedong Banten (KH. Qurthubi Jaelani) 

Menginjak usia yang ke-30 tahun, beliau menikah dengan seorang anak ustadz yang bernama Asnawiah yang beralamat di Kp. Parage Langgar, RT/RW 005/001 Desa Parage Kec. Cikulur Lebak, Banten. Setelah itu, beliau dikaruniai 3 orang anak diantara putera yang pertama Nuryana, yang kedua Neneng Nursalamah dan yang ketiga yaitu Muhammad Abdurrohman. 

Pada saat beliau dikaruniai anak yang pertama beliau masih belum merasa puas dalam mencari ilmu agama sambil bekerja dan mencari ilmu, beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Salafiyah al-Istiglaliyah, Cilongok, Sukamantri, Pasar Kemis Tangerang (Abuya Dimyati). Kemudian, dilanjutkan oleh Abuya Uci Turtusi sampai sekarang. Selama 3 tahun beliau fokus dalam hafalan al-Qur’annya dan mengkhatamkan hafalannya sebanyak 30 juz sekaligus belajar membaca syekh dengan lagam-lagam tertentu. Mesikupun beliau sudah menikah dan dikaruniai seorang putra. Akan tetapi jiwa santrinya masih tetap membara. Kata orang-orang di kampung, “Sudah menikah saja masih tetap mondok,” ucap salah satu warga sekitar. Sehingga orang-orang disekitar sangat kagum terhadap beliau.

Setelah merintis karir pendidikannya, beliau mulai mengajar di Kampung Parage. Beliau selalu mengisi pengajian mingguan dari kampung ke kampung. Menurut bapak Salim, selaku ketua RT di Kampung Parage. Ternyata Abah memed ini sudah mengajar dan mensyiarkan agama sejak zaman PKI. Bahkan beliau ikut merasakan bahwa pedihnya saat zaman tersebut ulama-ulama diteror oleh anggota-anggota PKI yang bersifat anti agama. Seiring berjalannya waktu beliau selalu sabar dan istiqomah dalam mendidik santri-santrinya. 

Ada salah satu cerita dari warga sekitar ketika mau diangkat dan dibantu oleh masyarakat sekitar untuk membangun pondok besar di Kampung Parage, beliau menolaknya karena masih banyak kekurangan kata beliau “Ulah ngadambel kobong, sing penting barudak daek ngaraji,” ucap Abah. Hal ini selalu diingat oleh masyarakat sekitar, bahwasanya kalau mau ngaji itu harus dengan keikhlasan hati, fokus untuk mencari ridho Allah SWT. karena dengan ibadah hidup menjadi tentram dan aman, terhindar dari sifat-sifat penyakit hati yang ada pada diri manusia. Kemudian muncul peranyaan, “Mengapa tidak mau dibuatkan pondok oleh masyarakat?” 

Beliau tidak ingin memanfaatkan fasilitas yang masyarakat berikan kepada beliau kecuali hasil dari jerih payah beliau sendiri, pada intinya beliau tidak mau merepotkan orang lain. Hingga sampai saat ini pondok beliau adalah rumah beliau sendiri, merupakan tempat majlis ta’lim untuk mengajar santri-santrinya. Baik itu belajar ilmu Al-Qur’an, tajwid, fikih, kitab-kitab kuningnya hingga akhlak dan tauhid yang beliau ajarkan kepada santri-santrinya. 

Sudah 200 lebih santri-santri yang belajar kepada beliau. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dalam menumpahkan seluruh hidupnya untuk mensyiarkan agama Allah SWT walaupun dengan keadaan sederhana. Prinsip beliau adalah ‘ngaji, ngaji dan ngaji’, karena hidup bodoh itu sangat sengsara. Pesan itu yang sering beliau ucapkan kepada santri-santrinya. Seolah-olah beliau berpesan kepada santri-santrinya bahwasanya jangan sampai kalian hidup bodoh dalam kesengsaraan, hidup itu harus ngaji dan mengkaji, karena itu hidup akan menjadi tenang dan bahagia di dunia atau pun di akhirat. Selain itu, dengan mengaji akhlak menjadi baik dan terhindar dari penyakit-penyakit hati. 

Di samping itu, Abah selalu melakukan puasa sunah ataupun puasa-puasa yang lainnya. Banyak para ustadz/santri-santri yang sudah matang ilmunya banyak berdatangan kepada beliau untuk meminta ijazah kepada beliau. Ditinjau dari kedalaman ilmunya Abah adalah seorang yang banyak bermujahadah. Beliau banyak melakukan sholat dan puasa, sifat wara’ dan banyak bersedekah juga selalu menghiasi diri beliau. 

Ketika beliau sedang mengajar tak segan-segan beliau menghantam santri-santrinya dengan sapu lidi atau rotan. Ketika santrinya susah dalam menghafal al-Qur’an mengucap dan memahami suatu ayat ataupun pelajaran yang lainnya. Sikapnya yang tegas menjadi guru yang paling disegani dari semua kalangan masyarakat sudah tahu betul bahwa Abah memed dalam mendidik santri-santrinya itu sangat tegas. Maka dari itu santri-santrinya tidak pernah ada yang kuat ketika ngaji dengan beliau, banyak santri-santri yang menjadi panutan di masyarakat karena berkat didikan dan ajaran dari beliau. 

Abah juga merupakan salah satu kuncen/juru kunci tentang keberadaan sumur tujuh (7) yang berada di lokasi Gunung Karang Pandeglang, Banten. Beliau sering mengantar masyarakat ziarah/berkunjung kepada sumur 7 itu, tujuannya agar meningkatkan ketaqwaan dan selalu bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Menurutnya beradaan sumur 7 itu jarang sekali ditemukan dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menemukannya. Sudah banyak cerita dari warga sekitar mengenai keberadaan sumur 7 itu yang dahulu adalah bekas tapak pertilasan para ulama nusantara, salah satunya Prabu Siliwangi yang dahulu adalah tempat menyepi sekaligus tempat wudhu beliau. 

Pada zaman PKI dan belum memasuki era orde baru, banyak pengunjung yang berdatangan dari penjuru daerah yang ingin mengetahui dan merasakan tempat tersebut. Mengenai sumur tujuh itu ada beberapa tingkatan ada yang namanya sumur ke 1, 2, 3 sampai yang terakhir yaitu sumur ke 7. Nah, dari sumur ke 7 inilah banyak orang yang ingin menemukannya untuk minta keberkahan. Akan tetapi sulit untuk ditemukan, yang hanya bisa menemukan sumur ke 7 ini yaitu orang-orang tertentu termasuk Abah Memed. 

Mendengar cerita dari masyarakat, termasuk istrinya beliau. Dahulu beliau pernah menengok sumur ke 7 itu dalam keadaan kondisi yang tidak ada airnya. Artinya sumur tersebut surut bahkan ada bekas orang mandi yang tadinya bersih malah menjadi kotor. 

Beliau bertanya kepada masyarakat di sana, “Mengapa sumur ini surut?” “Semalam ada orang Cina yang mandi di situ tanpa minta izin terlebih dahulu,” jawab salah seorang warga. Sudah 3 bulan sumur itu tidak ada airnya. Akhirnya Abah selaku juru kunci, beliau memutuskan untuk bermalam di sana selama 7 hari 7 malam. Dengan bermunajat kepada Allah SWT, beliau meminta petunjuk dari Allah agar semuanya kembali normal seperti semula. Bedo’a dan berdzikir serta berpuasa yang dilakukan oleh Abah, alhasil masyarakat heran setelah 7 hari 7 malam berlalu pas menjelang adzan subuh, air sumber dari sumber ke 7 itu mengalir lagi dengan deras. Keesokan harinya air itu penuh lagi dan mengaliri sumber air yang lainnya. Atas izin Allah SWT,  semuanya kembali normal setelah terjadi peristiwa sumber air ke 7 itu sulit ditemukan kecuali orang-orang tertentu yang bisa menemukannya. Itulah salah satu karamah dari Abah Memed. 

Sampai sekarang usianya yang ke 65 tahun beliau masih hidup bahagia dengan istri dan keluarganya. Selain itu, beliau sudah tidak lagi mengajari santri-santrinya karena beliau sedang sakit yang berkepanjangan. Sudah 4 tahun ini beliau sakit karena lumpuh, terbaring lemah dan hidup dengan kesederhanaan. Beliau dirawat oleh istri dan anak-anaknya di rumah sederhananya. Setiap waktu banyak santri-santrinya yang menjenguk beliau. Inilah kisah hidup tentang seorang guru yang penuh kerbatasan dalam masyiarkan agama Islam. 

Oleh   : Irfan, Semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *